Monumen Patung Dirgantara: Sejarah dan Makna di Balik Patung Pancoran

Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara. Kumparan/Aditia Noviansyah.
Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara.
Patung Dirgantara berdiri kokoh di Kecamatan Pancoran. Berdasarkan website resmi Pemkot Jakarta Selatan, jakarta.go.id, Kecamatan Pancoran merupakan salah satu dari 10 kecamatan yang ada di Kota Jakarta Selatan.
Patung ini dapat terlihat jelas bila melalui Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta juga dari flyover Gatot Subroto, Jalan M.T. Haryono, Jalan Raya Pasar Minggu dan juga Jalan Prof. DR. Soepomo.

Sejarah Monumen Patung Dirgantara

Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara. Kumparan/Iqbal Firdaus.

Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara. Kumparan/Iqbal Firdaus.
Sejarah pembangunan Patung Dirgantara dimulai pada 1964-1966. Dibuat oleh maestro pematung Indonesia, Edhi Sunarso. Proses pengecorannya dibantu dan dilakukan oleh Artistik Dekoratif Yogyakarta, dipimpin I Gardono.
Presiden Soekarno ingin menghadirkan citra penerbangan Indonesia yang perkasa di mata dunia. Oleh karenanya, patung ini kemudian dinamakan Patung Dirgantara.
Ketika patung ini dikerjakan, Presiden Soekarno sudah sakit-sakitan. Bahkan Soekarno yang saat itu sudah masuk pengasingan, tentu tidak punya banyak dana untuk membiayai ambisi merampungkan patung ini.
Pasalnya patung ikonik ini terbuat dari bahan perunggu. Berat total patung ini tercatat mencapai hingga 11 ton, dengan tinggi 11 meter, dan kaki patung setinggi 27 meter. Sehingga berat keseluruhannya mencapai 11 ton.
Biaya pembangunan Patung Dirgantara atau Patung Pancoran cukup besar pada masa itu, yakni Rp12.000.000. Pemerintah ketika itu hanya menyiapkan dana sebesar Rp5.000.000. Soekarno turut mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp1.000.000 demi proyek tersebut.
Soekarno juga menjual mobil pribadinya sebagai tambahan dana proyek monumen itu. Namun, dana yang dikumpulkan ini pun masih belum bisa menutupi total biaya pembuatan patung megah tersebut

Makna di Balik Patung Dirgantara

Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara. Kumparan/Aditia Noviansyah.

Ilustrasi Monumen Patung Dirgantara.
Sebagaimana yang dicita-citakan Presiden Soekarno, makna dari berdirinya patung ini yakni sebagai gambaran manusia angkasa dengan semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa.
Penggambaran pemahaman ini tercermin pada patung yang mengedepankan kejujuran, keberanian, dan juga semangat pengabdian.
Patung Dirgantara atau Patung Pancoran memiliki keunikan sendiri. Pose tangan yang menunjuk dari patung ini diperagakan sendiri oleh Bung Karno.
Pose ini mewakili gambaran keinginan untuk memimpin penerbangan Indonesia agar maju hingga tingkat internasional. Monumen Patung Dirgantara juga menjadi simbol prestasi dan aspirasi Indonesia.
Tangan patung Pancoran yang menunjuk ke arah utara, yakni mengarah ke Bandar Udara Internasional Kemayoran, yang masih beroperasi kala itu. Sedangkan wajah patung mengambil rupa sang pematung, Edhi Sunarso.
Fakta menarik dari patung ini, yakni patung ini tidak pernah diresmikan dan sebenarnya juga belum rampung. Presiden Soekarno pun tidak pernah melihat hasil akhir dari pembangunan patung ini.
Hal tersebut dikarenakan patung ini dibuat pada akhir masa kepemimpinan presiden pertama Indonesia itu. Saat itu pula terjadi peristiwa besar yakni Gerakan 30 September 1965.
Demikian informasi mengenai sejarah dan makna di balik Monumen Patung Dirgantara atau Patung Pancoran. (Fitri A)

Sejarah Lahirnya FBR Di Tengah Kota Jakarta

Sejarah Lahirnya FBR Di Tengah Kota Jakarta

HISTORY – FBR telah beroperasi di Jakarta selama satu dekade. Organisasi kesukuan ini dibentuk sebagai tanggapan atas keprihatinan para tetua Betawi tentang kondisi kehidupan mereka di Jakarta.

Karena masyarakat Betawi semakin terpinggirkan dan terhimpit oleh kehidupan kota. Mereka berharap tidak diremehkan di ibu kota yang semakin bersolek seiring kemajuan modernisasi.

Arti Kata “Rempug”

Sejarah Lahirnya Forum Betawi Rempug yang Ditonggaki Agamawan Muda

Pada tanggal 29 Juli 2001, pada tanggal 8 Rabiul Tsani 1422 Hijriyah, FBR didirikan.

FBR didirikan atas bantuan beberapa tokoh muda Betawi di Pondok Pesantren Zidatul Mubtadi’ien Yatim Cakung, Jakarta Timur.

Janji mendirikan FBR dibacakan di Pondok Pesantren Ziyadatul Mubtadi’ien di Jalan Raya Pgilan No. 100 Pedaengan, Cakung, Jakarta Timur. Fadloli, putra almarhum Kyai MKyai Muhir dan Hj. Maanih, lahir di wilayah itu.

Kata Betawi “Rempug” di akhir nama FBR memiliki arti kata paduan yang kompak. Sejak itu, jumlah anggota baru terus meningkat.

Mereka kemudian mendirikan gardu induk untuk menjadi perwakilan di berbagai wilayah Jabodetabek.

Sebuah gardu mempekerjakan seratus orang. Untuk menghimpun dana dari anggota, mereka juga menggunakan sistem urunan biaya anggota.

Hingga saat ini tercatat jumlah gardu induk tersebut berjumlah ratusan, dengan anggota lebih dari 600 ribu orang. Sebagai organisasi Betawi, FBR tidak sendiri.

Contohnya antara lain ada Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Forum Persatuan Betawi (FBB), Ikatan Keluarga Betawi (Ikabe), Persatuan Masyarakat Betawi (PMB), dan Persatuan Orang Betawi (POB).

Misi FBR

KH Lutfi Hakim : FBR Fokus Kawal RUU DKJ – MEDIA MITRA TNI POLRI

Gerakan perjuangan FBR dilandasi oleh keikhlasan, persatuan, dan tanggung jawab moral kepada masyarakat sekitar yang terpinggirkan akibat pembangunan ekonomi.

Para pendiri FBR percaya bahwa pembangunan tidak melibatkan rakyatnya. FBR berupaya melakukan perubahan yang positif, efisien, dan bermartabat melalui program-programnya.

Sehingga ke depan masyarakat Betawi bisa menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri melalui kompetisi yang profesional dan proporsional.

Almarhum Fadloli berharap FBR dapat mempererat persaudaraan antar warga Betawi dimanapun, berpartisipasi dalam program pemerintah, meningkatkan sumber daya masyarakat Betawi, meningkatkan peran masyarakat Betawi dalam segala aspek kehidupan, melestarikan seni budaya Betawi, dan akhirnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam.

Namun, citra FBR tampaknya bertentangan secara diametral cita-cita mereka. FBR dan sejumlah ormas berbasis primordial kerap bentrok dengan ormas lain di lapangan.

FBR dan ormas lainnya menjadi perbincangan hangat akibat seringnya bentrokan. Sepeninggal Fadloli, FBR kini dipimpin oleh Luthfi Hakim.

Organisasi FBR tidak dibentuk untuk mengizinkan anggotanya menggunakan kekerasan. Beberapa khawatir tentang kelangsungan hidup mereka sendiri.

Pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, wacana pembubaran ormas dinilai meresahkan, tidak pernah terwujud.

Karena semua kelompok etnis berinteraksi dalam masyarakat yang serba cepat, FBR didirikan di jantung komunitas sosial Jakarta yang beragam.

Akibatnya, dalam hal pembangunan ekonomi dan moral, keragaman penduduk Jakarta dianggap sebagai aset kota yang paling berharga.

Sebagai warga inti Jakarta, Betawi menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan diri di tengah masyarakat yang majemuk, antara lain masalah politik, sosial budaya, ekonomi, agama, dan sebagainya.

Pembentukan FBR diharapkan agar masyarakat Betawi dapat menyalurkan aspirasinya, mengaktualisasikan diri, dan mengembangkan potensinya tanpa harus mengecualikan suku bangsa lain yang hidup berdampingan di bumi Betawi.

Sejarah Orang Betawi

Milad ke-22, Ribuan Massa FBR Tumpah Ruah Padati Kawasan Ancol

Keturunan biologis dari campuran berbagai suku dan bangsa membentuk mereka yang mengidentifikasi diri sebagai orang Betawi. Mereka adalah keturunan dari pernikahan antaretnis bersejarah dan serikat multinasional.

Suku bangsa ini masih dalam masa pertumbuhan, begitu pula pemahaman diri sebagai anggota masyarakat Betawi. Tergantung dari mana mereka berasal, mereka biasanya menyebut diri mereka dalam percakapan sehari-hari sebagai orang Kemayoran, Senen, atau Rawabelong.

Kehadiran orang Betawi sebagai kelompok etnis dan sebagai entitas sosial dan politik di lingkungan yang lebih besar, khususnya Hindia Belanda, baru diakui pada tahun 1923, ketika Moh Husni Thamrin, seorang tokoh masyarakat Betawi, mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi.

Saat itu, semua orang Betawi baru tahu bahwa mereka adalah golongan orang Betawi. Berbagai kultur dan budaya termasuk dari luar nusantara telah tergabung dalam budaya Betawi secara umum.

Sejarah Berdirinya Pemuda Pancasila, Fakta, dan Sepak Terjangnya

Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat menghadiri acara Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) Pemuda Pancasila di   Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/10). Acara tersebut sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun ke-58 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Pancasila yang juga bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/NZ/17.
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat menghadiri acara Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) Pemuda Pancasila di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/10). Acara tersebut sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun ke-58 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Pancasila yang juga bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda.

HISTORY – Ormas Pemuda Pancasila menjadi sorotan setelah terjadinya insiden pengeroyokan terhadap salah seorang polisi anggota Polda Metro Jaya.

Diberitakan Kompas.com, Jumat (26/11/2021) Kepala Bagian Operasi (KBO) Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Dermawan Karosekali menjadi korban pengeroyokan massa dari ormas Pemuda Pancasila.

Karosekali menjadi korban saat dirinya bertugas mengamankan aksi demonstrasi massa Pemuda Pancasila di gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (25/11/2021) yang berakhir ricuh.

Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur menyatakan, Karosekali menderita trauma di perut akibat pengeroyokan yang dilakukan massa Pemuda Pancasila. Aksi kekerasan yang melibatkan ormas Pemuda Pancasila sudah berulangkali terjadi.

Sebelumnya, ormas ini sempat terlibat bentrokan dengan ormas Forum Betawi Rempung di Ciledug, Tangerang pada 19 November 2021. Lantas, bagaimana sejarah berdirinya Pemuda Pancasila?

Sejarah Pemuda Pancasila: Didirikan oleh pentolan militer Mengutip laman Badan Pelaksana Kaderisasi Pemuda Pancasila, organisasi Pemuda Pancasila dideklarasikan pada 28 Oktober 1959.

Pembentukan organisasi Pemuda Pancasila diprakarsai oleh penggawa partai politik Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Untuk diketahui, IPKI merupakan partai politik yang didirikan oleh pentolan militer Indonesia pada era Orde Lama atau pada saat era kepemimpinan Presiden Soekarno.

Mengutip laman Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, partai politik IPKI merupakan kelanjutan IPKI yang dibentuk sejak 20 Mei 1954.

Para tokoh pemrakarsa IPKI di antaranya adalah Kolonel Abdul Haris Nasution, Kolonel Gatot Subroto, Kolonel Aziz Saleh, dan lainnya.

IPKI merupakan partai politik yang didirikan dengan tujuan sebagai lawan ideologis dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika PKI mendirikan organisasi Pemuda Rakyat, IPKI meresponsnya dengan mendirikan organisasi Pemuda Pancasila pada 28 Oktober l959.

Gesekan antara Pemuda Pancasila dan PKI menjadi hal yang tak bisa dihindari.

Bahkan, Pemuda Pancasila bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terlibat dalam pembersihan PKI dan seluruh anasir komunis di Indonesia saat gejolak tahun 1965 yang menjadi cikal bakal kelahiran Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.

Eksis hingga sekarang

Semuda Pancasila berhasil melewati tiga era pemerintahan Indonesia, yakni era Orde Lama, era Orde Baru, dan kini era Orde Reformasi.

Dalam Musyawarah Besar ke-VII Pemuda Pancasila tahun 2001 di Wisma Kinasih Bogor, diputuskan bahwa Pemuda Pancasila berubah menjadi ormas yang bebas dari segala bentuk politik praktis.

Arah kegiatan organisasi tersebut kini lebih dititikberatkan untuk bergerak di sektor kegiatan sosial kemasyarakatan yang secara langsung menyentuh kepentingan masyarakat.

Rantai komando dalam tubuh Pemuda Pancasila terdiri dari tingkat nasional (Majelis Pimpinan Nasional), provinsi (Majelis Pimpinan Wilayah), kota/kabupaten (Majelis Pimpinan Cabang), kecamatan (Pimpinan Anak Cabang), hingga kader di kelurahan sebagai basis massa terbawah. Dengan semboyan “Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang”, Pemuda Pancasila mendeklarasikan diri bahwa organisasi tersebut siap menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik itu perubahan zaman, politik, hingga sistem pemerintahan.

Mendapat dukungan elite politik

Presiden Joko Widodo (empat kiri) bersama Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP) Bambang Soesatyo (ketiga kiri), Ketua DPD La Nyalla Mattalitti (kedua kiri), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kiri) dan Ketua Umum MPN PP Japto Soerjosoemarno (kelima kiri) menghadiri peresmian pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) X dan Perayaan HUT ke-60 Pemuda Pancasila di Jakarta, Sabtu (26/10/2019). Pemuda Pancasila menggelar Mubes X dengan tema “Mengembalikan marwah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, sesuai naskah asli yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945” yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2019 di Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir/wsj.
Presiden Joko Widodo (empat kiri) bersama Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP) Bambang Soesatyo (ketiga kiri), Ketua DPD La Nyalla Mattalitti (kedua kiri), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kiri) dan Ketua Umum MPN PP Japto Soerjosoemarno (kelima kiri) menghadiri peresmian pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) X dan Perayaan HUT ke-60 Pemuda Pancasila di Jakarta, Sabtu (26/10/2019). Pemuda Pancasila menggelar Mubes X dengan tema “Mengembalikan marwah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, sesuai naskah asli yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945” yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2019 di Jakarta. 

Diberitakan a.com, Sabtu (27/11/2021) ormas Pemuda Pancasila juga memiliki sokongan dari para elite politik nasional. Ketua MPR Bambang Soesatyo tercatat menjadi Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila.

Bahkan, Presiden Joko Widodo beserta Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga tercatat sebagai anggota kehormatan Pemuda Pancasila. Jokowi dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Pemuda Pancasila saat membuka Musyawarah Besar Pemuda Pancasila di Hotel Sultan, Jakarta, pada 26 Oktober 2019.

Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno mengatakan, para anggota kehormatan mendapat perlindungan penuh darinya selaku Ketua Umum Pemuda Pancasila.

“Kami sudah mengangkat Presiden RI Joko Widodo. Saya bertanggung jawab melindungi pemegang kartu anggota Pemuda Pancasila,” kata Yapto.

Dua hari berselang pada 28 oktober 2019, tepatnya pada penutupan Musyawarah Besar Pemuda Pancasila, giliran Ma’ruf Amin yang didapuk sebagai anggota kehormatan.

Yapto langsung yang mendapuk Ma’ruf Amin menjadi anggota kehormatan Pemuda Pancasila dalam acara tersebut.

Ma’ruf diberikan status anggota kehormatan usai menyampaikan pidato penutupan Musyawarah Besar Pemuda Pancasila.

“Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, kami akan mengangkat KH Ma’ruf Amin menjadi anggota kehormatan atau anggota luar biasa Pemuda Pancasila,” ujar Yapto saat menutup acara tersebut.

Koja Berdarah, Ketika 3 Tewas dan Ratusan Luka-Luka dalam Konflik Makam Mbah Priok

JAKARTA,HISTORY– Mbah Priok atau Habib Hassan Al Haddad sudah menjadi tokoh keramat bagi masyarakat Jakarta Utara, Khususnya Koja, Tanjung Priok.

Makamnya yang terletak di Jalan Jampea No. 6, Koja, pun menjadi tempat ziarah yang selalu ramai pengunjung.

Masyarakat dari berbagai daerah datang berduyun-duyun ke sana untuk melakukan doa bersama dan memberi penghormatan kepada sosok yang dikenal berjasa dalam menyebarkan agama Islam tersebut.

Koja berdarah

Namun, pada 14 April 2010 terjadi sebuah peristiwa berdarah di sekitar makam keramat itu.

Bentrokan terjadi antara warga dan petugas keamanan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta aparat TNI dan Polri.

Pemicunya adalah sengketa tanah.

Catatan bbc.com, pemerintah DKI mengklaim bahwa makam itu berdiri di atas lahan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh pewaris makam Mbah Priok, sehingga terjadilah bentrokan. Akibat bentrokan tersebut, tiga anggota Satpol PP meninggal dunia.

Sebanyak 28 orang mengalami luka berat, 21 orang luka sedang, dan 148 luka ringan. Korban berasal dari warga dan petugas keamanan.

Kronologi kejadian Kepala Satpol PP Kepulauan Seribu Hotman Sinambela, yang terlibat dalam peristiwa berdarah itu, mengisahkan pengalaman traumatis yang ia alami ketika mengawal penggusuran lahan makam Mbah Priok.

“Saya masih ingat benar, saya lompar pagar tinggi sampai tiga kali. Setelah itu baru lewat laut naik perahu (kabur dari lokasi kerusuhan), karena saya memang warga Kepulauan Seribu,” ujarnya, Sabtu (17/4/2010).

Hotman mengisahkan, seperti dilansir Tribunjakarta.com, eksekusi penggusuran lahan makam dimulai sekitar pukul 05.20 WIB pada Rabu (14/4/2010).

Sebanyak 1.750 anggota Satpol PP dari beberapa wilayah, termasuk dari Kepulauan Seribu diterjunkan.

Baru sampai mengeruk bagian depan area makam, sekelompok orang sudah melakukan perlawanan.

Sebagian massa mengacung-acungkan celurit dan parang. Lama-kelamaan, kelompok tersebut mendapat bantuan yang lebih besar dan membentuk massa yang tidak terkendali.

“Bayangkan anggota saya tidak bersenjata, tapi dilawan dengan orang-orang yang mengacungkan samurai dan celurit. Bahkan sudah lempar bom molotov,” ujar Hotman.

Satpol PP jadi korban

Ia mengakui anggotanya sempat memberikan perlawanan karena melihat ada anggota Satpol PP bernama Tadjudin sudah putus tangannya tersabet parang.

“Anggota saya melihat Tadjudin tangannya sudah putus saat itu. Sebenarnya saat itu juga dia sudah meninggal.

Kalau sudah begitu, siapa yang enggak panik. Cuma masalah tanah gapura saja sampai seperti itu.

Kami sebenarnya tidak menginginkan seperti itu terjadi,” ujarnya. Pada siang hari, massa mulai menguasai akses pintu masuk ke makam, yang merupakan jalan menuju Terminal Petikemas Koja.

Ia dan anak buahnya harus tunggang langang menghindar dari serbuan massa yang mulai membabi buta jika melihat ada anggota Satpol PP di lokasi kejadian. Menjelang Maghrib, Hotman sempat mengkhawatirkan keselamatan anggotanya.

Karena sempat menunggu beberapa menit sebelum ada speed boat yang menjemput. “Saat itu, saya cemas dan bingung juga. Mau bagaimana lagi kalau sudah di ujung,” ujarnya.

Hotman mengaku tak terlalu memikirkan berapa miliar jumlah kerugian yang dialamai pihaknya.

Ia lebih khawatir nasib anggotanya yang belum kembali. “Yang sudah kembali dengan saya lewat laut baru 877 dari 1750 orang.

Saya dapat informasi ada 2 mayat lagi ditemukan. Tapi, kami belum tahu kebenarannya, ” ujarnya. Sebagai pimpinan Satpol PP Kepulauan Seribu, Hotman minta kepada anggota Satpol PP yang belum kembali, segera melapor ke Posko Pengaduan.

Ia juga minta bantuan masyarakat agar melapor jika menemukan anggota yang sakit ataupun tewas.

“Saya minta bantuan masyarakat untuk mencari dimana mayatnya. Kalau pun hanya tinggal kepalanya, beritahu kami,” pintanya. Ia akui, pada malam itu juga mendapat perintah dari atasan agar anggota Satpol PP tidak aktif sementara.

Bahkan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, anggota Satpol PP hanya berani mengenakan pakaian biasa.

Gerakan Aceh Merdeka: Latar Belakang, Perkembangan, dan Penyelesaian

Seratusan mantan kombantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh menggelar upacara pengibaran bendera bulan bintang dalam rangka memperingati hari milad ke 40 di kawasan pegunungan Aceh Jaya, Minggu (04/12/16).
Seratusan mantan kombantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh menggelar upacara pengibaran bendera bulan bintang dalam rangka memperingati hari milad ke 40 di kawasan pegunungan Aceh Jaya, Minggu (04/12/16).(Kompas.com)

HISTORY – Gerakan Aceh Merdeka atau GAM adalah gerakan separatisme bersenjata yng bertujuan agar Aceh terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

GAM dibentuk pada 4 Desember 1976 dan dipimpin oleh Hasan di Tirto.

Akibat adanya perbedaan keinginan antara pemerintah RI dan GAM, konflik yang terjadi sejak 1976 hingga 2005 ini telah menjatuhkan hampir 15.000 jiwa.

Organisasi tersebut membubarkan gerakan separatisnya setelah terjadi Perjanjian Damai 2005 dengan pemerintah Indonesia.

 GAM kemudian berganti nama menjadi Komite Peralihan Aceh.

Penyebab

Konflik yang terjadi di Aceh disebabkan oleh beberapa hal, yaitu perbedaan pendapat tentang hukum Islam, ketidakpuasan atas distribusi sumber daya alam Aceh, dan peningkatan jumlah orang Jawa di Aceh.

Dalam konflik tersebut, GAM melalui tiga tahapan, yaitu tahun 1977, 1989, dan 1998.

Sebelumnya, pada 4 Desember 1976, pemimpin GAM, Hasan di Tiro bersama beberapa pengikutnya melayangkan perlawanan terhadap pemerintah RI.

Perlawanan tersebut mereka lakukan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie.

Sejak saat itu, konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung

Perkembangan

1977

GAM pertama kali mengibarkan bendera perang dengan melakukan gerilya.

Namun, pemerintah pusat berhasil menetralisir kelompok tersebut. GAM mengalami kegagalan dalam perang gerilya.

1989

Pada 1989, GAM memperbarui aktivitasnya. GAM didukung oleh Libya dan Iran dengan mengerahkan sekitar 1.000 tentara.

Pelatihan yang diberi dari luar negeri ini berarti bahwa tentara GAM sudah jauh lebih tertata dan terlatih dengan baik.

Melalui ancaman terbaru ini, Aceh dinyatakan sebagai Daerah Operasi Militer Khusus (DOM).

Desa-desa yang diduga menampung para anggota GAM dibakar dan anggota keluarga tersangka diculik dan disiksa.

Diyakini terdapat 7.000 pelanggaran hak asasi manusia terjadi selama DOM berlangsung.

1998

Tahun 1998, Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia. Kedudukannya kemudian digantikan oleh Presiden Jusuf Habibie.

Semasa kepemimpinannya, Habibie menarik pasukan dari Aceh untuk memberi ruang bagi GAM dalam membangun kembali organisasinya.

Namun, pada 1999, kekerasan justru semakin meningkat.

GAM memberontak terhadap pejabat pemerintah dan penduduk Jawa yang didukung oleh penyelundupan senjata besar-besaran dari Thailand oleh GAM.

Kemudian, memasuki tahun 2002, kekuatan militer dan polisi di Aceh juga berkembang menjadi kurang lebih sebanyak 30.000.

Setahun kemudian, jumlahnya melonjak menjadi 50.000.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh GAM mengakibatkan beberapa ribu kematian warga sipil.

Untuk mengatasi GAM, pemerintah melancarkan serangan besar-besaran tahun 2003 di Aceh, di mana keberhasilan semakin terlihat.

Penyelesaian

Pada 26 Desember 2004, bencana gempa bumi dan tsunami besar menimpa Aceh.

Kejadian ini memaksa para pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan atas inisiasi dan mediasi oleh pihak internasional.

Selanjutnya, tanggal 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia.

Pada 17 Juli 2005, setelah berunding selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantta, Finlandia.

Penandatanganan kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005.

Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN.

Semua senjata GAM yang berjumlah 840 diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005.

Kemudian, pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer Tentara Neugara Aceh (TNA) telah dibubarkan secara formal.

Kisah Khmer Merah Duduki Phnom Penh Akhiri Perang Kamboja 1975, Bagaimana Muasal Gerakan Itu?

Pemimpin militer mereka, Pol Pot, menjadi Perdana Menteri untuk pemerintahan baru Kamboja. Kekuasaan Khmer Merah selama empat tahun berikutnya ditandai oleh beberapa catatan terburuk dari pemerintahan Marxis mana pun di abad ke-20, ketika sekitar 1,5 juta dan mungkin hingga 2 juta orang Kamboja tewas dan banyak profesional dan teknis negara itu meninggal dan dimusnahkan.

Namun masa kekuasaan Khmer Merah di Kamboja tidak berlangsung lama. Pemerintah Khmer Merah digulingkan pada 1979 dengan menyerang pasukan Vietnam, yang memasang pemerintahan boneka yang didukung oleh bantuan dan keahlian Vietnam.

Perang Kamboja-Vietnam yang kemudian membawa Khmer Merah menguasai Kamboja

Khmer Merah mundur ke daerah terpencil dan melanjutkan perang gerilya, kali ini beroperasi dari pangkalan di dekat perbatasan dengan Thailand dan mendapatkan bantuan dari Tiongkok.

Pada 1982, mereka membentuk koalisi yang rapuh (di bawah kepemimpinan nominal Sihanouk) dengan dua kelompok Khmer non-komunis yang menentang pemerintah pusat yang didukung Vietnam.

Khmer Merah adalah mitra terkuat dalam koalisi ini, yang melakukan perang gerilya hingga era 1991. Khmer Merah menentang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mensponsori penyelesaian perdamaian pada 1991 dan pemilihan multipartai pada 1993, dan mereka melanjutkan perang gerilya melawan pemerintah koalisi non-komunis yang dibentuk setelah pemilihan tersebut.

Terisolasi di provinsi barat terpencil negara itu dan semakin bergantung pada penyelundupan permata untuk pendanaan mereka, Khmer Merah mengalami serangkaian kekalahan militer dan semakin lemah dari tahun ke tahun.

5 Januari 1976: Pemimpin Khmer Merah Pol Pot Ubah Nama Kamboja ...

Kemudian pada 1995, banyak kader mereka menerima tawaran amnesti dari pemerintah Kamboja, dan di tahun 1996 salah satu tokoh mereka, Ieng Sary, membelot bersama beberapa ribu gerilyawan di bawah komandonya dan menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah.

Kekacauan dalam organisasi meningkat pada tahun 1997, ketika Pol Pot ditangkap oleh pemimpin Khmer Merah lainnya dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Puncaknya, Pol Pot meninggal pada 15 April 1998 akibat serangan jantung, dan segera setelah itu para pemimpin Khmer Merah yang masih hidup membelot atau dipenjarakan.

Perang Paregreg: Penyebab, Kronologi, dan Dampak

Candi Jabung peninggalan majapahit yang berdiri di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

HISTORY – Perang Paregreg (1404-1406) adalah perang saudara antara Bhre Wirabumi dari Kerajaan Blambangan dengan Prabu Wikramawardhana dari Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit diketahui pernah beberapa kali menghadapi perang saudara, namun yang cukup berdampak besar adalah Perang Paregreg.

Meski hanya berlangsung selama dua tahun, Perang Paregreg diyakini menjadi salah satu penyebab melemahnya Kerajaan Majapahit.

Setelah itu, Kerajaan Majapahit menghadapi masalah perebutan tahta pemerintahan di antara para penguasa daerah yang sebagian besar merupakan kerabat raja.

Penyebab Perang Paregreg

Dilansir dari laman bobo.grid.id dan Kompas.com, Perang Paregreg disebabkan oleh adanya pertikaian antara istana barat dan istana timur.

Dalam kitab Pararaton, hal ini berawal dari munculnya keraton baru di Pemotang pada tahun 1376, yang terletak di timur Kerajaan Majapahit.

Keraton tersebut dipimpin oleh Bhre Wenker atau Wijayarajasa yang merupakan suami dari Rajadewi, bibi dari Raja Hayam Wuruk.

Rajadewi membuat Wijayarajasa berambisi untuk menjadi raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk.

Sementara Hayam Wuruk memiliki dan selirnya memiliki putra yang bernama Bhre Wirabhumi.

Menurut Kitab Negarakertagama, Bhre Wirabhumi kemudian dinikahkan dengan Nagarawardhani, cucu dari Rajadewi.

Setelah Wijayarajasa wafat, Bhre Wirabhumi diangkat menjadi raja di istana timur.

Sedangkan wilayah istana barat diberikan kepada menantu Hayam Wuruk yaitu Wikramawardhana untuk dipimpinnya.

Dua istana tersebut mulai bergejolak saat Bhre Wirabhumi mengangkat istrinya Nagarawardhani menjadi Bhre (Adipati) Lasem.

Mengetahui hal itu, Wikramawardhana juga ikut mengangkat istrinya, Kusumawardhani, menjadi Bhre Lasem.

Namun ketika Nagarawardhani dan Kusumawardhani meninggal pada tahun 1400, Wikramawardhana segera mengangkat menantunya, yaitu istri Bhre Tumapel sebagai Bhre Lasem.

Sejak saat itu, pertengkaran antara istana timur dan barat menjadi semakin sengit, hingga meletuslah Perang Paregreg pada tahun 1404.

Kronologi Perang Paregreg

Sesuai nama Paregreg yang berasal dari istilah dalam bahasa Jawa Kuno, peperangan ini terjadi dalam beberapa tahap dengan tempo yang lambat.

Hal ini menjelaskan jalannya Perang Paregreg yang berlangsung antara tahun 1404 hingga 1406.

Perang saudara ini berjalan secara bertahap dengan kemenangan yang terjadi silih berganti.

Selama dua tersebut, kemenangan kadang didapat oleh istana barat dan kemudian berganti dimenangkan istana timur.

Hingga di tahun 1906, akhirnya Perang Paregreg dimenangkan oleh istana barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel, putra dari Wikramawardhana yang dapat menguasai istana timur.

Dalam Perang Paregreg, Bhre Wirabhumi yang memimpin istana timur tewas.

Walau peperangan sudah usai, ternyata pertikaian antara dua istana itu masih menyebabkan dampak luar biasa pada Kerajaan Majapahit.

Dampak Perang Paregreg

Dampak Perang Paregreg disebut menjadi pemicu kemunduran bagi Kerajaan Majapahit, yaitu:

1. Banyak daerah kekuasaan melepaskan diri

Walau setelah peperangan istana timur bergabung dengan Kerajaan Majapahit di Mojokerto, ada banyak daerah kekuasaan yang mencoba melepaskan diri.

Bahkan wilayah kekuasaan Majapahit di luar Pulau Jawa dengan cepat melepaskan diri dan membuat banyak daerah lain melakukan hal yang sama.

Hal ini membuat wilayah kekuasaan Majapahit menjadi semakin sempit.

2. Memakan banyak korban

Walau perang saudara in hanya terjadi selama dua tahun, namun ternyata dampaknya memakan banyak korban.

Korban yang jatuh dalam Perang Paregreg bukan hanya berasal dari pasukan perang tapi juga orang asing dari Tiongkok.

3. Kondisi ekonomi menurun

Jatuhnya korban orang asing dari Tiongkok membuat Wikramawardhana harus membayar ganti rugi dalam jumlah besar.

Padahal kondisi ekonomi Majapahit sudah menurun akibat peperangan.

4. Wikramawardhana gagal membangkitkan kejayaan Majapahit

Kondisi semakin buruk setelah Wikramawardhana dan para penerusnya tidak bisa membangkitkan kejayaan Majapahit.

Hal ini yang menjadikan Perang Paregreg menjadi faktor utama dari runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Daftar 9 Istri Bung Karno: dari Kawin Gantung, Janda hingga Siswi SMA 

HISTORY kisah istri Bung Karno terulis dalam buku. Antara lain, Inggit, Kuantar Ke Gerbang; Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno; Haryatie, Soekarno The Hidden Story; Hartini, Biografi Hartini Soekarno; Ratna Sari Dewi, Sakura di Tengah Prahara; Yurike Sanger, Kisah Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA; Heldy Djafar, Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno.

Selain itu kisah istri Bung Karno juga ditulis dalam buku Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno, Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya yang ditulis penulis Haris Priyatna. Ada pula Total Bung Karno karya Roso Daras.

Presiden Sukarno atau Bung Karno tercatat mempunyai 9 istri. Sembilan istri Soekarno tersebut antara lain adalah, Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Kartini Manoppo dan Heldy Djafar.

Dari kesembilan istri Bung Karno, enam di antaranya berakhir dengan perceraian; Siti Oetari, Inggit Garnasih, Kartini Manoppo, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.

Saat sekolah di Surabaya, Sukarno kos di rumah HOS .Cokroaminoto. Siti Oetari, adakah putri sulung HOS Tjokroaminoto. Sukarno menikahi Oetari pada 1921 pada usia 21 tahun. Sedang Oetaru berumur 16 tahun. Oetari belum lama ditinggal mati ibunya.

Ternyata Soekarno tidak mencintai Oetari. Oetari juga tidak mencintainya. Mereka tak saling mencintai. Pernikahan mereka hanya seumur Jagung. Soekarno akhirnya menceraikan Oetari tak lama setelah kuliah di Bandung.

“Bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang kupuja itu (Tjokroaminoto), itu akan kulakukan,” cetus Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Roso Daras, penulis buku Total Bung Karno mengatakan, “Istilahnya mereka menikah kawin gantung.”

Inggit Ganarsih adalah istri kedua Bung Karno. Sukarno dan Inggit bertemu di kota Bandung. Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB) tahun 1921.
Inggit Ganarsih adalah istri kedua Bung Karno. Sukarno dan Inggit bertemu di kota Bandung. Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB) tahun 1921.

Inggit usianya juga lebih tua 13 tahun, berstatus istri orang (H Sanusi, politisi Sarekat Islam). Di rumah kos di Bandung milik Inggit cinta bersemi. Mereka memutuskan menikah pada 24 Maret 1923.

Sukarno menceraikan Oetari dan Inggit menceraikan H Sanusi.

Mereka mengarungi bahtera rumah tangga selama hampir 20 tahun, akhirnya berpisah pada tahun 1943 karena Inggit tidak mau di madu sebab tidak punya anak. Mereka bercerai dengan perjanjian perceraian, Sukarno membelikan rumah di Bandung dan memberi nafkah seumur hidup.

“(Tapi) Inggit tidak pernah sekalipun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Sukarno dalam surat perjanjian cerai, yang juga disaksikan dan ditandatangani oleh Moh Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansoer pada 1942,” tulis Ramadhan KH dalam Soekarno: Ku Antar ke Gerbang.

Setelah bercerai dari Inggit pada 1943, Bung Karno kenal dengan Fatmawati yang juga anak angkatnya saat di Bengkulu . Fatma lalu dinikahinya. Fatma merupakan gadis muda yang usianya lebih muda 22 tahun dari Bung Karno. Bung karno sudah berumur 42 tahun.

Fatmawati merupakan Istri soekarno yang paling terkenal, karena berjasa dengan menjahit bendera sang saka merah putih untuk pelaksanaan Proklamasi.

Soekarno dari Fatmawati memiliki keturunan, lima anak. Mereka adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Istri keempat Hartini. Mereka bertemu ketika di Candi Prambanan. Mereka menikah pada tahun 1953. Hartini saat itu berumur 29 tahun dan berstatus janda dengan lima anak.

Dari Soekarno, Hartini dapat dua anak, yaitu Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra. Hartini, wanita asal Ponorogo kelahiran tahun 1924 ini bertemu pertama dengan Bung Karno tahun 1952 di kota tempat tinggalnya, Salatiga, Jawa Tengah.

“Bapak langsung menyatakan sangat tertarik kepada diri saya.” Malahan ketika diberi tahu bahwa sudah punya lima orang anak, muncul komentar spontan, “Benar, sudah lima anak dan masih tetap secantik ini?”

Cinta pandangan pertama tersebut muncul seketika, dan Bung Karno menyebutkan, “Aku jatuh cinta kepadanya. Dan kisah percintaan kami begitu romantis sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal tersebut.”

Saat itu, Bung Karno masih terikat perkawinan dengan Fatmawati, sementara status Hartini, ibu rumah tangga dengan lima anak.

Juli 1953, Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas. Karena Bung Karno tidak bisa hadir, bertindak sebagai wakil nikah komandan pasukan pengawal pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo.
Juli 1953, Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas. Karena Bung Karno tidak bisa hadir, bertindak sebagai wakil nikah komandan pasukan pengawal pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo.

“Hartini salah satu istri Soekarno yang tetap setia hingga ajal Bung Karno tiba. Di pangkuan Hartini , Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di RS Gatot Subroto,”ungkap Roso.

Bung Karno lalu menikah dengan Haryati di Jakarta . Haryati adalah penari yang juga merupakan staf Sekretariat Negara Bidang Kesenian itu. Sukarno lantas menikahinya gadis berusia 23 tahun itu pada 21 Mei 1963 dengan hajatan sederhana.

Dikatakan Haryati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno; Haryatie, bahwa Bung Karno berpendapat, sangat bijaksana kalau pernikahan ini tidak usah diumumkan kepada masyarakat luas.

“Kami berdua saling mencintai, tetapi menghadapi berbagai kesulitan. Selain itu, Bapak sudah mempunyai tiga istri dan usianya sekarang 63 tahun, sedangkan saya baru 23 tahun.”

Sukarno memilih menceraikannya pada 1966. “Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak ‘cocok’ satu sama lain,” tulis Sukarno dalam surat perceraiaannya yang dikutip Reni Nuryanti dalam Perempuan dalam Hidup Sukarno.

Istri Bung Karno berikutnya adalah Ratnasari Dewi. Dalam buku My Friend the Dictator , ia mengungkapkan, “Saya dikenalkan kepada Bapak di Hotel Imperial Tokyo oleh para rekan bisnis dari Jepang”. Pertemuan pertama tersebut membawa kesan sangat dalam. Tidak lama kemudian, Bung Karno mengundangnya ke Jakarta, untuk bertamasya selama dua minggu.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan perkawinan pada awal Maret 1962, setelah Naoko Nemoto pindah agama dan Bung Karno memilihkan nama , Ratnasari Dewi.

Tetapi perkawinan tersebut membawa korban. Ibu Naoko, seorang janda, kaget dan langsung meninggal mendengar putrinya menikah dengan orang asing. Disusul hanya 26 jam sesudahnya, Yaso, saudara lelaki Naoko, melakukan bunuh diri. “And I was so alone. I had lost my whole family.”

“Mengingat situasi serba tidak menguntungkan, mengambil orang asing sebagai istri baru, maka selama beberapa waktu pernikahan kami disembunyikan. Saya merasa sangat tersiksa, harus selalu sendirian dan bersembunyi di rumah. Satu-satunya kegembiraan, Bapak sangat memperhatikan segala macam keperluan saya. Bapak menyulutkan rokok saya, Bapak dengan setia membawakan buah-buahan,”paparnya.

Kartini Manoppo

Petualangan Bung Karno belum berakhir. Ia jatuh cinta pada seorang model dan mantan pramugari. Namanya Kartini Manoppo asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang jadi salah satu model lukisan karya Basoeki Abdullah . Setelah ditanya siapa modelnya dan alamatnya, Sukarno mendekati Kartini.

“Kartini yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas dimintanya ikut terbang setiap kali Presiden Sukarno ke luar negeri,” ungkap Peter Kasenda dalam Bung Karno: Panglima Revolusi. Rayuan maut .

Mereka menikah tidak secara resmi, melainkan hanya nikah siri pada 1959.

“Keluarga tidak menyetujui. Pantang bagi keluarga terpandang putri kesayangannya jadi istri kelima meski dia seorang presiden. Itulah kenapa saya tidak menikah secara resmi dengan Bung Karno,” kenang Kartini di buku Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih, Suamiku dan Kebanggaanku.

Namun perubahan situasi politik pasca-Tragedi 1965, Kartini diminta Sukarno “menyelamatkan” diri ke Eropa. “Kartini diminta ke Eropa demi keselamatan mereka. Bung Karno tidak mau Kartini yang sedang hamil, terjadi sesuatu di Indonesia,” kata Roso.

Di Nurnberg, Jerman pada 17 Agustus 1966, Kartini melahirkan seorang putra yang dinamai Bung Karno, Totok Surjawan. Dua tahun kemudian keduanya memutuskan berpisah.

Lalu kisah cinta Bung Karno dengan siswa SMA, Bung Karno mengenal Yurike semasa sang gadis masih tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, di sebuah acara kenegaraan pada 1963. Ia jatuh cinta, hingga memutuskan menikah pada 6 Agustus 1964.

Yurike kian kesulitan bertemu suaminya pasca-Tragedi 1965. Terlebih setelah Bung Karno mulai sakit-sakitan. Pada suatu ketika Yurike bisa membesuk suaminya di Wisma Yaso, Bung Karno melayangkan permintaan yang menusuk hatinya. Yurike diminta bercerai demi masa depan Yurike sendiri. Permintaan yang awalnya ditolak sang istri muda.

“Dengan terpaksa kupenuhi permintaannya. Kami bercerai secara baik-baik (pada 1967). Sungguh mengharukan karena kami masih sama-sama mencintai. Kami berpisah saat kami sedang rapat bersatu,” kenang Yurike dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA: Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger karya Kadjat Adra’i.

Istri terakhir Bung Karno atau yang ke 9 adalah Heldy Djafar. Ia tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, pengibar bendera pusaka. Bung karno meminangnya dan menikahinya pada 11 Juni 1966 di Istana, tepatnya di Wisma Negara.

Rumah tangga mereka hanya bertahan dua tahun. Selain karena sudah dimakzulkan, Bung Karno mulai sakit-sakitan. Untuk bisa bertemu harus di rumah Yurike, di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur.

Hingga suatu ketika , itu Heldy meminta izin untuk menjauh dari Sukarno. “Mas, maafkan saya, kalau saya boleh menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Kondisi dan suasana saat ini sangat menyakitkan hati saya. Tidak bisa begini terus. Harus ketemu di rumah orang lain,” lirihnya dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda.

Kata-kata itu menyiratkan Heldy minta cerai. Namun ditolak Sukarno yang belum ingin berpisah. Seiring waktu, status mereka kian tak jelas. Dibilang istri sulit, cerai pun tidak. Akhirnya Heldy menerima pinangan Gusti Soeriansjah pada 19 Juni 1968. (aky)

Misteri 7 Tahun “Lubang Neraka Siberia” di Lingkaran Arktik Rusia

HISTORY – Di sebuah semenanjung terpencil di atas lingkaran Arktik, sebuah lubang besar menganga diyakini para ilmuwan akibat ledakan dari bawah tanah. Lubang itu disebut-sebut sebagai “Lubang Neraka Siberia”.

Di sekitar lubang kawah itu, akar-akar tanaman di bagian tepinya tampak hangus, menunjukkan betapa hebatnya lubang di tengah Arktik Siberia ini tercipta.

Melansir BBC Future, Evgeny Chuvilin seorang ahli geologi di Institut Sains dan Teknologi Skolkovo, Moskwa, Rusia berkunjung ke situs itu tahun lalu.

Lubang itu memiliki kedalaman 164 kaki (50 meter) dan menampung bagian-bagian penting dari teka-teki yang masih menjadi misteri.

Lubang itu diyakini disebabkan oleh gas bawah tanah, sebuah fenomena alam yang memengaruhi wilayah yang memanas dengan cepat itu di tengah musim panas tahun lalu.

Lubang kawah itu disebut kawah 17 karena 16 lubang serupa sudah ditemukan sebelumnya di ujung barat laut Siberia sejak pertama kali diamati pada 2014.

Situs web berita sains Gizmodo menjuluki lubang besar itu sebagai “lubang menuju neraka”.

“Lubang itu membuat suara-suara. Seperti sesuatu yang hidup,” ujar Chuvilin dikutip The Moscow Times.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika pernah menyatakan HOAKS untuk sebuah tayangan video YouTube yang mengatakan bahwa “Lubang Neraka” di Siberia adalah benar-benar berasal dari alam neraka.

Melalui keterangan rilis Kominfo, video yang menayangkan suara-suara jeritan memilukan seperti penghuni neraka yang disiksa adalah tidak nyata alias editan dari film horor Baron Blood (1972).

Dua teori terbentuknya “Lubang Neraka Siberia”

Selain sebagai pakar geologi, Chuvilin juga salah satu ahli permafrost terkemuka Rusia yang mengambil bagian dalam ekspedisi dan menceritakan pengalaman ekspedisinya kepada The New York Times (NYT).

Para peneliti percaya bahwa lubang kawah terbentuk ketika tanah beku yang lama dikenal sebagai permafrost mulai mencair dan melepaskan gas metana yang terperangkap.

Metana menciptakan tonjolan di permukaan bumi yang dikenal sebagai pingos, yang akhirnya meledak dan meninggalkan kawah. Metana yang terperangkap “meledak seperti sebotol sampanye,” kata Chuvilin.

Dilansir dari NYT ada dua teori yang mampu menjelaskan mengapa metana bisa menyebabkan ledakan.

Pertama, metana beku di dalam yang kembali ke keadaan gasnya atau lapisan es yang mencair melepaskan endapan metana.

Permafrost yang mencair juga dikaitkan dengan tumpahan bahan bakar solar besar-besaran di dekat kota Norilsk di Arktik pada Mei 2020.

Para pencinta lingkungan menyebutnya sebagai tumpahan terburuk yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Wilayah Arktik dan Siberia Rusia sudah memanas lebih cepat daripada bagian dunia lainnya, menghadapi gelombang panas musim panas yang bersejarah tahun lalu disertai dengan kebakaran hutan, tumpahan bahan bakar, gagal panen, dan masih banyak lagi.

SEJARAH MUMMY

Mumi adalah seseorang atau hewan yang tubuhnya dikeringkan atau diawetkan setelah mati. Ketika orang berpikir tentang mumi, mereka sering membayangkan versi awal era Hollywood NANA4D dari bentuk manusia yang dibalut lapisan demi lapisan perban, lengan terentang saat mereka perlahan bergerak ke depan. Mumi mungkin tidak benar-benar bangkit dari makam kuno dan menyerang, tetapi mumi tersebut cukup nyata dan memiliki sejarah yang menarik.

BACA JUGA : HISTORY – SEJARAH MUNIR, KRONOLOGI DARI TAHUN 2004 HINGGA 2022 TANPA HASIL

Apa itu mumi?

Praktik mengawetkan jenazah sebagai mumi tersebar luas di seluruh dunia dan sepanjang waktu. Banyak peradaban—Inca, Aborigin Australia, Aztec, Afrika, Eropa kuno, dan lain-lain—telah mempraktikkan beberapa jenis mumifikasi selama ribuan tahun untuk menghormati dan mengawetkan jenazah.

Ritual mumifikasi bervariasi berdasarkan budaya, dan diperkirakan beberapa budaya membuat mumi seluruh warganya. Ada pula yang mencadangkan ritus peralihan hanya untuk orang kaya atau orang-orang berstatus tinggi. Karena sebagian besar bakteri tidak dapat berkembang dalam suhu ekstrem, memaparkan mayat di bawah sinar matahari, api, atau suhu beku adalah cara mudah untuk membuat mumi.

Beberapa mumi terjadi secara tidak sengaja. Ambil contoh, Accidental Mummies of Guanajuato , koleksi lebih dari 100 mumi yang ditemukan terkubur di ruang bawah tanah di Meksiko. Mayat-mayat itu tidak dijadikan mumi dengan sengaja. Diperkirakan panas ekstrem atau cadangan geologis yang kaya akan belerang dan mineral lainnya memicu proses mumifikasi.

Beberapa biksu Buddha mempraktikkan mumifikasi diri dengan menghabiskan waktu bertahun-tahun membuat tubuh mereka kelaparan dan hanya mengonsumsi makanan yang memicu pembusukan. Setelah lemak tubuh mereka hilang, mereka menghabiskan beberapa tahun lagi meminum getah beracun hingga menyebabkan muntah untuk menghilangkan cairan tubuh. Racun tersebut juga membuat tubuh menjadi tuan rumah yang buruk di masa depan bagi serangga pemakan mayat.

Ketika waktunya tepat, para biksu dikubur hidup-hidup untuk menunggu kematian dan mumifikasi. Kematian datang dengan cepat, namun mumifikasi diri jarang berhasil.

Mumi Mesir

Tidak peduli bagaimana tubuh dimumikan, tujuan akhirnya adalah pelestarian jaringan kulit sebanyak mungkin—dan para pendeta Mesir kuno dianggap sebagai ahli dalam proses tersebut. Iklim Mesir yang gersang memudahkan proses pengeringan dan pembuatan mumi pada jenazah, namun masyarakat Mesir secara rutin menggunakan proses yang lebih rumit untuk memastikan jenazah dapat selamat menuju alam baka.

Proses mumifikasi bagi bangsawan dan orang kaya sering kali mencakup:

  • mencuci tubuh
  • mengeluarkan semua organ kecuali jantung dan memasukkannya ke dalam toples
  • mengemas tubuh dan organ dalam garam untuk menghilangkan kelembapan
  • membalsem tubuh dengan resin dan minyak esensial seperti mur, cassia, minyak juniper dan minyak cedar
  • membungkus jenazah yang dibalsem dengan beberapa lapis kain linen

Masyarakat Mesir kuno dari semua lapisan masyarakat membuat mumi anggota keluarga yang meninggal, namun prosesnya tidak rumit bagi masyarakat miskin. Menurut Egyptologist Salima Ikram, beberapa mayat hanya diisi dengan minyak juniper untuk melarutkan organ sebelum dikuburkan.

Mumi para firaun ditempatkan di peti mati batu berornamen yang disebut sarkofagus. Mereka kemudian dimakamkan di kuburan rumit yang berisi segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk akhirat seperti kendaraan, peralatan, makanan, anggur, parfum, dan barang-barang rumah tangga. Beberapa firaun bahkan dikuburkan bersama hewan peliharaan dan pembantunya.

Mumi sebagai Obat

Menurut abstrak tahun 1927 yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society of Medicine , sediaan obat yang terbuat dari bubuk mumi populer antara abad kedua belas dan ketujuh belas. Selama waktu itu, tak terhitung banyaknya mumi yang dibongkar dan dibakar untuk memenuhi permintaan akan “obat mumi”.

Ketertarikan terhadap mumi sebagai obat didasarkan pada dugaan khasiat obat dari aspal, sejenis aspal dari Laut Mati. Mumi diperkirakan dibalsem dengan aspal, namun hal ini jarang terjadi; sebagian besar dibalsem dengan resin.

BACA JUGA : Kerusuhan Mei 1998 Fakta, Data & Analisa : Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Mumi Menjadi Arus Utama

Mungkin mumi yang paling terkenal dalam sejarah modern adalah Raja Tutankhamun , umumnya dikenal sebagai Raja Tut. Makam dan tubuh muminya ditemukan pada tahun 1922 oleh arkeolog Inggris Howard Carter . Ini merupakan penemuan yang menggembirakan namun ditakdirkan untuk dibayangi oleh beberapa kematian yang tidak dapat dijelaskan.

Menurut cerita rakyat, mengganggu makam mumi akan menyebabkan kematian. Namun takhayul ini tidak mengguncangkan Carter, atau menghentikannya untuk menggali makam Tut. Namun, ketika beberapa orang yang terlibat dalam ekspedisinya meninggal lebih awal karena sebab-sebab yang tidak wajar, cerita tersebut menjadi sensasional oleh media—meskipun apa yang disebut kutukan menyelamatkan nyawa Carter.

Mumi menjadi lebih dari sekedar simbol keagamaan dunia kuno pada awal abad ke-20 dengan debut novel Bram Stoker, The Jewel of the Seven Stars , yang menampilkan mereka sebagai penjahat supernatural. Namun penggambaran mumi oleh Boris Karloff dalam film The Mummy tahun 1932lah yang menjadikan mumi sebagai monster yang populer.

Film-film selanjutnya seperti The Mummy’s Tomb dan The Mummy’s Curse menggambarkan mumi sebagai makhluk bisu yang diperban dengan kuat seperti yang mereka kenal sekarang. Mumi fiksi tidak dapat merasakan sakit dan, seperti monster horor lainnya, sulit dibunuh. Cara paling efektif untuk membuat mereka mati permanen adalah dengan membakarnya.

Meskipun nyata—dan menyeramkan—mumi tidak memiliki ketenaran yang sama dengan zombie , manusia serigala, dan vampir . Hal ini mungkin berubah ketika Hollywood merilis film mumi baru dengan alur cerita yang mengerikan dan efek khusus yang mengerikan.

TERSEDIA JUGA: