HISTORY > AWAL MULA KOTA BANDUNG JADI PARIS VAN JAVA

Awal Mula Kota Bandung dijuluki Paris van Java

Selain Kota Kembang, Kota Bandung memiliki julukan lain, ya, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini, telah lama dikenal dengan sebutan “Paris van Java”, tidak asing bukan? Gelar ini tidak hanya sekedar istilah yang dilekatkan secara sembarangan, melainkan mencermimkam sejarah panjang dan keistimewaan Kota ini.

Julukan itu sudah tersemat untuk Bandung sejak 1889-1940 pada masa kolonial Belanda, dibuatnya julukan tersebut agar dapat menarik turis agar berkunjung ke Hindia Belanda.

Beberapa Kota di Indonesia saat itu juga diperkenalkan dengan julukan serupa, misalnya Venetie van Java untuk Batavia, Gibraltar van Java untuk Semarang, serta Switzerland van Java untuk Garut.

Lalu, apakah benar Bandung serupa dengan Paris? Kawan mungkin penasaran, asal mula Kota Bandung diberi julukan Paris Van Java seperti apa? Untuk itu, yuk, simak ulasan berikut!

Sejarah Singkat Kota Bandung

Kota Bandung dinamai dari nama bendung, atau bendungan, menurut kutipan dari laman disdik.jabarprov.go.id. Hal ini disebabkan oleh lahar Gunung Tangkuban Perahu yang membendung Sungai Citarum.

Ada legenda tambahan yang menyatakan bahwa kata “Bandung” berasal dari jenis perahu yang dikenal dengan nama “perahu bandung”, yang terdiri dari dua perahu yang diikat menjadi satu.

Pada saat itu, R.A. Wiranatakusumah II, Bupati Bandung, menggunakan perahu tersebut untuk mencari lokasi untuk pusat pemerintahan Kabupaten Bandung yang baru.

Alasan pemindahan pusat pemerintahan tersebut, dikarenakan daerah Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) dinggap kurang strategis dan sering dilanda banjir saat musim hujan.

Selain itu, permintaan yang diajukan pada tahun 1808 oleh Pemerintah Hindia Belanda, yang saat itu dipimpin oleh gubernur jenderal pertama, Herman Willem Daendels, memberikan dorongan untuk pemindahan ibu kota yang baru.

Hal ini dikarenakan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang akan membentang sepanjang kurang lebih 1000 km dari Anyer, ujung barat Jawa Barat, hingga Panarukan, ujung timur Jawa Timur, akan melewati daerah Krapyak, yang dulunya merupakan ibu kota Kabupaten Bandung.

Pada tanggal 25 September 1810, Kota Bandung ditetapkan sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung. Tanggal ini diakui sebagai hari ulang tahun Kota Bandung yang masih diperingati hingga saat ini.

Awal Mula Bandung dijuluki Paris van Java

Melansri dari phinemo.com, julukan Paris van Java diketahui sangat terkait dengan pertumbuhan pariwisata di Hindia Belanda, menurut sebuah buku tahun 2007 berjudul “Vereeniging Toeristen Verkeer Batavia (1908-1942): Awal Pariwisata Modern di Hindia Belanda” oleh Achamd Sunjayadi.

Mereka berharap dapat menghasilkan pendapatan baru dan menunjukkan kepada dunia luar tentang kemajuan koloni melalui pariwisata.

Pada era Kolonial Belanda, kota-kota di Indonesia dijuluki dengan nama-nama tempat yang terkenal di Eropa.

Hindia Belanda juga turut mengikuti pameran pariwisata di sejumlah negara yang semakin membumikan julukan tersebut.

Bandung sebagai Paris-nya Pulai Jawa muncul karena menjadi pusat fesyen. Selera orang-orang pada saat itu sangat Paris, pada Era 1900 terdapat satu toko bernama Aud di Jalan Braga.

Toko tersebut menjadi favorit warga Bandung untuk bisa tampil kekinian, setiap model busana terbaru di Paris selalu dipajang di toko ini.

Lalu, pada tahun 1913, Aug berganti nama menjadi Au Bon Marche Modemagizn dari bahasa Perancis.

Selain itu, terdapat restoran khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap populer para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa.

Tidak hanya segi busana saja, arsitektur di Bandung turut menerapkan art deco sebagai acuan pembangunan gedung yang sangat mirip dengan Paris.

Gedung Hotel Preanger serta hotel Savoy Homan, menjadi contoh bangunan yang merapkan art deco pada zaman Hindia Belanda. Julukan Kota Bandung sebagai Paris van Java pun kemudian terus diwariskan secara turun temurun hingga sekarang menjadi pusat wisata di Jawa.

Mengenang Ita Martadinata, Aktivis HAM 1998 yang Dibunuh Sebelum Bersaksi di PBB

 

HISTORY – Dua puluh lima tahun setelah Reformasi 1998, kekerasan yang meliputi peristiwa itu masih membekas.

Salah satu kejahatan yang belum terselesaikan hingga sekarang adalah pemerkosaan masif terhadap perempuan Tionghoa selama kerusuhan Mei 1998. Bahkan, salah satu saksi tragedi itu ditemukan tewas dibunuh sebelum berangkat ke Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS untuk memberikan kesaksian.

Dia adalah Ita Martadinata, gadis 18 tahun yang aktif di Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan (TRKP). Ita ditemukan tewas di rumahnya pada 9 Oktober 1998.

Upaya pembungkaman

Kengerian pembunuhan Ita Mardinata diungkapkan oleh Ita Fatia Nadia, mantan anggota Tim Relawan Kemanusiaan (TRK), dalam wawancara dengan The Jakarta Post, 19 Mei 2021.

Sudah Tujuh Belas Tahun Artikel Kompas.id TRK dibentuk sebagai respons atas kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998. Tingginya kasus pemerkosaan pada waktu itu mendorong TRK membentuk subdivisi khusus bernama TRKP. Nadia bertugas sebagai koordinator TRKP.

Dia menuturkan, relawan dari berbagai latar belakang bergabung dengan TRKP, termasuk Ita Martadinata yang seorang Buddhist. “Saya diberitahu oleh sesama relawan bahwa dia (Ita) adalah korban pemerkosaan, meskipun dia tidak pernah memberi tahu saya,” kata Nadia.

Tak lama setelah kerusuhan, TRK mempersiapkan saksi-saksi untuk memberikan kesaksian pribadi tentang pemerkosaan masif selama kerusuhan Mei 1998 di Sidang PBB di New York.

Ita mengajukan diri untuk memberikan kesaksian setelah berdiskusi dengan anggota TRK dan ibunya.

Akomodasi, tiket pesawat, dan visa telah disiapkan agar Ita bisa berangkat ke Amerika Serikat.

Namun, kabar duka itu datang.

Lihat Foto sebuah mall dibakar oleh massa aksi di Solo

Nadia mengaku menerima kabar kematian Ita pada 4 Oktober 1998 pukul 16.00 WIB dari Lily Zakiyah Munir, seorang aktivis hak perempuan dan anggota Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah mendengar kabar itu, Nadia pun bergegas ke rumah Ita. Sesampainya di sana, ayah Ita memintanya untuk naik ke kamar putrinya di lantai dua. “Itu 45 menit setelah Ita dibunuh.

Saat saya masuk ke kamarnya, saya kaget karena darahnya banyak sekali,” kenang Nadia. Nadia mengatakan, darah masih mengucur dari tubuh Ita. Selain itu, sebatang tongkat kayu menancap di anus korban. Menurut dia, itu adalah kasus pembunuhan paling keji yang pernah dilihatnya sepanjang hidup.

Berat Nadia mengatakan, kekejian pembunuhan Ita diperparah dengan narasi-narasi menyudutkan, termasuk pernyataan ahli forensik Mun’im Idris bahwa Ita “terbiasa berhubungan seks”.

Pernyataan tersebut lantas digunakan beberapa media untuk menyangkal kematian Ita sebagai pembunuhan bermotif politik.

Menurut Nadia, pembunuhan Ita dimaksudkan untuk mengintimidasi Tionghoa-Indonesia agar tidak bersuara tentang pemerkosaan masif selama kerusuhan Mei 1998.

“Ini adalah pembunuhan sistematis dan politis untuk membungkam orang Tionghoa-Indonesia untuk bersuara di tingkat internasional,” tuturnya.

 

Sejarah Batu Gantung, Cerita Rakyat Sumatera Utara yang Melegenda

Batu Gantung di Danau Toba. (Foto: Istimewa)

Medan – Jika detikers pernah berkunjung ke Pulau Samosir di Danau Toba, pasti tidak asing dengan objek wisata Batu Gantung. Siapa sangka, Batu Gantung ini memiliki cerita mistis yang melegenda.

Dilansir dari laman resmi WBTB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Batu gantung adalah sebuah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

Batu Gantung ini terletak di Parapat, tepatnya pada tepi Danau Toba sehingga tidak jauh dari Pulau Samosir.

Untuk mencapainya, biasanya para wisatawan harus menaiki kapal atau speedboat sekitar 10-15 menit dari Hotel pinggiran Danau Toba.

Ketika sampai, detikers akan melihat pahatan bebatuan yang unik. Namun jika kita lihat dengan seksama, akan terlihat batu tersebut seperti seorang wanita dengan seekor anjing kecil di sampingnya yang bergantung.

Mistisnya pula, batu dan tempat ini dianggap menjadi tempat keramat oleh masyarakat setempat, sehingga dianjurkan tidak boleh berbicara kotor, kasar atau bahkan menghina keberadaan batu gantung tersebut. Akan timbul kecelakaan jika melakukannya.

Sejarah Kisah Batu Gantung

Kisah Batu Gantung dimulai pada jaman dahulu kala, hidup seorang gadis cantik. Suatu ketika ketika beranjak dewasa, ia dijodohkan dengan anak namborunya (saudara perempuan ayah). Ceritanya, calon suaminya ini seorang yang bodoh atau idiot.

Meski bodoh, pria ini merupakan keturunan keluarga yang kaya raya. Ditambah, pada saat itu terdapat ketentuan atau peraturan yang tidak bisa dibantah bahwa si gadis harus terima untuk menikahi anak namborunya.

“Kamu harus menikah dengan anak namborumu, Ini perintah!”, bentak Ayah kepada putrinya. Mulailah resah hati si gadis karena sebenarnya ia tidak ada perasaan cinta sedikitpun dalam hatinya.

Si gadis pun diam saja karena tidak bisa membantah perkataan ayahnya. Namun sehari sebelum pesta nikah digelar, si gadis masih tetap sudi sehingga memilih untuk kabur melarikan diri.

Ia melarikan diri rumah bersamaan dengan anjing peliharaan yang selalu setia mengikutinya. Dalam hatinya si gadis “Daripada dia menjadi suamiku, lebih baik aku bunuh diri,” usiknya.

Ia pun bertekad untuk bunuh diri daripada menikah dengan jodoh pilihan ayahnya. Seketika itu, si gadis pun sampai di tepi jurang, lalu langsung melompat ke bawah bersamaan dengan anjing gempet di sampingnya.

Seperti filosofi anjing yang setia, kemanapun si tuan pergi akan selalu diikuti bahkan menghadap kematian. Tergantunglah si gadis bersama anjingnya hingga menjadi batu yang sekarang disebut Batu Gantung.

Perkembangan Batu Gantung Saat Kini

Hingga saat ini, Batu Gantung masih menjadi salah satu ikon pariwisata jika wisatawan berkunjung ke Danau Toba. Apalagi ketika sedang berlayar menaiki kapal dari pelabuhan Parapat ke pelabuhan Tomok.

Mengingat tempat ini juga tidak hanya jadi objek wisata, batu gantung mengandung cerita legenda yang fenomenal. Bahkan masih sangat terkenal di tengah masyarakat dan pengujung yang datang.

Dengan lingkungan yang masih alami dan air danau yang terjaga kebersihannya, membuat tempat ini jadi tempat swafoto yang Instagramable. Terdapat pula para pemandu di kapal sambil menceritakan Batu Gantung.

Keberadaan Batu gantung ini pun menjadi petuah bahwa orang tua harus bisa bersikap bijaksana dalam mengatur kisah percintaan anaknya. Demikian Sejarah Batu Gantung yang melegenda. Semoga Bermanfaat!

INI DIA MISTERI TEMBOK RAKSASA YANG ADA DI BAWAH LAUT PAPUA! KONON PANJANGNYA 110KM

Ini dia kisah misteri tembok raksasa yang ada di Papua (YouTube Jelajah bumi)
Ini dia kisah misteri tembok raksasa yang ada di Papua (YouTube Jelajah bumi)

HISTORY – Papua merupakan sebuah wilayah yang berada paling timur di Indonesia dengan luas wilayah 890.000 kilometer persegi. Merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah pulau Greenland di Denmark.

Sumber daya alam di Papuan bisa di bilang sangat kaya, bahkan salah satu tambang emas terbesar di dunia ada di Papua. Tambang emas Freeport di Papua mampu menghasilkan jutaan ons per tahunnya.

Tak hanya itu, hutan Papua juga dihuni oleh hewan-hewan langka dan eksotis. Salah satu hewannya adalah burung cendrawasih yang dijuluki burung dari Surga.

Pulau Papua dengan keanekaragaman alamnya yang masih alami, ternyata menyimpan misteri yang sangat menakjubkan dengan ditemukan ada sebuah tembok besar di dasar laut beberapa tahun lalu.
Penemuan yang masih misterius ini memang menyerupai dinding atau tembok sehingga banyak orang menamakan tembok ini sebagai Jayapura wall.
Berikut adalah penjelasannya yang dikutip langsung dari kanal YouTube Jelajah bumi pada Jumat, 12 Januari 2023.
Tembok misterius ini berada di laut lepas dan tidak jauh dari ibu kota Papua yaitu Jayapura. Kordinat tembok ini bisa terlihat di Samudra Pasifik bagian utara pulau Papua.

Bangunan mirip benteng Raksasa ini panjangnya mencapai 110 kilometer dan tingginya mencapai 1860 meter dengan lebar 2700 meter. Penemuan tembok raksasa Papua ini tentu sangat menghebohkan.

Mengingat tembok ini berada di dalam laut dan ukurannya yang luar biasa, bahkan gedung tertinggi di dunia yang dibangun di masa modern saja tidak setinggi tembok ini.

Jika melihat sejarah pada zaman es di ribuan tahun yang lalu, Pulau Papua jauh lebih besar daripada saat ini. Bagian selatannya masih terhubung dengan Benua Australia dan pesisir utaranya memiliki daratan yang lebih luas.

Permukaan laut pada masa itu juga lebih dangkal karena wilayah es di Kutub Utara dan Kutub Selatan belum banyak yang mencair seperti sekarang.

Menurut sejumlah pakar, kemungkinan besar tembok tersebut udah ada pada masa es sebelum mencair. Sejumlah daratan di bumi ini diketahui saling menyatu dan beberapa orang percaya bahwa tembok ini berhubungan dengan bangunan kuno di dasar lautan.

Namun, sangat tidak mungkin bahwa bangunan seperti ini di bikin oleh peradaban manusia. Mengingat tinggi tembok yang mencapai 1860 meter. Sedangkan bangunan modern tertinggi saat ini seperti Burj Khalifa hanya memiliki tinggi 828 meter.

Sangat disayangkan tidak ada yang mengetahui siapa yang sebenarnya membangun tembok ini. Mengingat kehidupan masyarakat pada masa lampau sangat tidak mungkin mereka bisa membangun sebuah tembok yang kokoh dengan keterbatasan peralatan.

Seorang penulis yang beranama Robin Osborne dalam bukunya The Guerilla Struggle in Irian Jaya yang terbit pada tahun 1985 menjuluki Papua sebagai surga yang hilang.

Selain kekayaan alam, konon ada sebuah peradaban yang maju di Papua. Bahkan meski terisolasi di tengah belantara, mereka sudah memiliki penerangan yang memadai.

Dari berbagai sumber diungkapkan bahwa tembok ini bisa jadi dibangun oleh orang-orang dahulu yang pernah menghuni tanah Papua. Mereka menyebut diri mereka sebagai Bangsa Antara.

Penduduk ini memiliki ciri khas fisik yang kuat, kulit gelap dan pekerja keras. Merekalah yang membangun bangunan yang mirip benteng yang ada di bawah laut Papua.

Ada kemungkinan juga bahwa tembok ini merupakan bekas peradaban yang hilang. Kita mungkin pernah mendengan mengenai peradaban Atlantis yang hilang.

Meskipun hanya legenda, beberapa peneliti percaya bahwa Atlantis memang ada dan mencakup wilayah di Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Jika benar itu merupakan sebuah tembok, mungkin saja ada kaitannya dengan peradaban Atlantis yang konon katanya pernah ada di masa lalu.

Indonesia juga menjadi sorotan dalam kaitannya dengan Atlantis. Ilmuan asal Brazil Erisiononesdo Santos dalam bukunya yang berjudul Atlantis the last continentline the definitive location of the Civilization membandingkan ciri-ciri Benua Atlantis.

Selain itu, mengingat bahwa ukurannya yang sangat besar, bisa jadi tembok ini juga dibuat oleh manusia raksasa di masa lalu. Menurut sebuah kisah, tinggi manusia raksasa pada zaman dulu itu sekitar 30 meter yang memungkinkan dan sangat mudah bagi mereka untuk membangun tembok ini.

Saat tembok ini baru saja ditemukan, tembok ini bisa dilihat dari Google Maps. Tetapi setelahnya ada sebuah kejanggalan, setelah tembok ini ramai diperbincangkan dan mendunia, secara tiba-tiba struktur tembok raksasa ini langsung dihilangkan oleh Google Maps pada tahun 2012. **

Sejarah Timor Leste

 

Sejarah Timor Leste berawal dari kedatangan orang Australoid dan Melanesia. Orang dari Portugis mulai berdagang dengan pulau Timor pada awal abad ke-15 dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga.

Setelah terjadi beberapa bentrokan dengan Belanda, dibuatlah Perjanjian Lisboa (1859) di mana Portugal memberikan bagian barat pulau itu.

Jepang menguasai Timor Portugis dari 1942 sampai 1945, tetapi setelah mereka kalah dalam Perang Dunia II Portugal kembali menguasainya.

Reruntuhan bekas Polsek dan Koramil di Metinaro, yang hancur lebur diamuk massa.
Reruntuhan bekas Polsek dan Koramil di Metinaro, yang hancur lebur diamuk massa.

Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Anyelir di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara.

Maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste untuk mengevakuasi diri ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro.

Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.

Menurut suatu laporan resmi dari PBB, berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).

Dalam sebuah wawancara pada tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik mengatakan bahwa “jumlah korban tewas berjumlah 50.000 orang atau mungkin 80.000”.

Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.

Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN didampingi dengan ribuan rakyat mengungsi ke daerah pegunungan untuk melawan tentara Indonesia.

Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena pengeboman dari udara oleh militer Indonesia serta ada yang mati karena penyakit dan kelaparan.

Banyak juga yang mati di kota setelah menyerahkan diri ke tentara Indonesia, tetapi Tim Palang Merah Internasional yang menangani orang-orang ini tidak mampu menyelamatkan semuanya.

Selain terjadinya korban penduduk sipil di hutan, terjadi juga pembantaian oleh kelompok radikal FRETILIN di hutan terhadap kelompok yang lebih moderat. Sehingga banyak juga tokoh-tokoh FRETILIN yang dibunuh oleh sesama FRETILIN selama di Hutan.

Semua cerita ini dikisahkan kembali oleh orang-orang seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden Pertama Timor Leste yang mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1975.

Seandainya Jenderal Wiranto (pada waktu itu Letnan) tidak menyelamatkan Xavier di lubang tempat dia dipenjarakan oleh FRETILIN di hutan, maka mungkin Xavier tidak bisa lagi jadi Ketua Partai ASDT di Timor Leste Sekarang.

Selain Xavier, ada juga komandan sektor FRETILIN bernama Aquiles yang dinyatakan hilang di hutan (kemungkinan besar dibunuh oleh kelompok radikal FRETILIN).

Istri komandan Aquilis sekarang ada di Baucau dan masih terus menanyakan kepada para komandan FRETILIN lain yang memegang kendali di sektor Timur pada waktu itu tentang keberadaan suaminya.

Selama perang saudara di Timor Leste dalam kurun waktu 3 bulan (September-November 1975) dan selama pendudukan Indonesia selama 24 tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal (60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILIN menurut laporan resmi PBB).

Selebihnya mati ditangan Indonesia saat dan sesudah invasi dan ada pula yang mati kelaparan atau penyakit. Hasil CAVR menyatakan 183.000 mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia dari bom-bom napalm, serta mortir-mortir.

Timor Leste menjadi bagian dari Indonesia tahun 1976 sebagai provinsi ke-27 setelah gubernur jendral Timor Portugis terakhir Mario Lemos Pires melarikan diri dari Dili setelah tidak mampu menguasai keadaan pada saat terjadi perang saudara.

Portugal juga gagal dalam proses dekolonisasi di Timor Portugis dan selalu mengklaim Timor Portugis sebagai wilayahnya walaupun meninggalkannya dan tidak pernah diurus dengan baik.

Amerika Serikat dan Australia “merestui” tindakan Indonesia karena takut Timor Leste menjadi kantong komunisme terutama karena kekuatan utama di perang saudara Timor Leste adalah Fretilin yang beraliran Marxis-Komunis.

AS dan Australia khawatir akan efek domino meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara setelah AS lari terbirit-birit dari Vietnam dengan jatuhnya Saigon atau Ho Chi Minh City.

Salah satu demonstrasi di Australia yang menentang kependudukan Indonesia di Timor Timur
Tugu peringatan Australia di Balibo

Namun PBB tidak menyetujui tindakan Indonesia. Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.

 

Antara waktu referendum sampai kedatangan pasukan perdamaian PBB pada akhir September 1999, kaum anti-kemerdekaan yang konon didukung Indonesia mengadakan pembantaian balasan besar-besaran, di mana sekitar 1.400 jiwa tewas dan 300.000 dipaksa mengungsi ke Timor barat.

Sebagian besar infrastruktur seperti rumah, sistem irigasi, air, sekolah dan listrik hancur. Pada 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) tiba dan mengakhiri hal ini.

Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Leste dengan sokongan luar biasa dari PBB. Ekonomi berubah total setelah PBB mengurangi misinya secara drastis.

Semenjak hari kemerdekaan itu, pemerintah Timor Leste berusaha memutuskan segala hubungan dengan Indonesia antara lain dengan mengadopsi Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi dan mendatangkan bahan-bahan kebutuhan pokok dari Australia sebagai “balas budi” atas campur tangan Australia menjelang dan pada saat referendum.

Selain itu pemerintah Timor Leste mengubah nama resminya dari Timor Leste menjadi Republica Democratica de Timor Leste dan mengadopsi mata uang dolar AS sebagai mata uang resmi yang mengakibatkan rakyat Timor Leste menjadi lebih krisis lagi dalam hal ekonomi.

Asal-usul Nama Indonesia dan Pencetusnya

Peta Indonesia
Peta Indonesia

Surabaya – Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Namun istilah Indonesia sudah ada jauh sebelum itu. Lalu, bagaimana asal-usul nama Indonesia dan siapa pencetusnya?

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau Republik Indonesia (RI) merupakan negara kepulauan di Asia Tenggara. Tanah Air tercinta ini dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara Samudra Pasifik dan Hindia.

Tahun ini, Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-78. Sebelum era kemerdekaan, nama Indonesia sudah digaungkan pada masa pergerakan nasional.

Terlebih dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Kongres itu menghasilkan teks Sumpah Pemuda sebagai berikut ini:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Bahkan jauh sebelum itu, sebutan Indonesia juga sudah ada sebagai istilah geografi. Seperti dikutip detikJatim dari situs resmi Indonesia.

Pencetus Istilah Indonesia

Asal-Usul Nama Indonesia dan Artinya, Pencetusnya Ternyata Ilmuwan Kerajaan

Istilah Indonesia dicetuskan oleh James Richardson Logan. Ia merupakan seorang pengacara.

Logan lahir di Berwickshire-Skotlandia pada 10 April 1819. Pada 20 Oktober 1869, ia meninggal di Penang.

Mengenai Logan sebagai pencetus istilah Indonesia disebutkan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Sedjarah Modern Indonesia. Buku tersebut diterbitkan di kalangan terbatas pada 1964.

Pram menjelaskan apa itu Indonesia dalam pengantar buku itu. Ia menulis seperti berikut ini.

“Sampai waktu yang lama Indonesia dianggap tjiptaan Bastian, sedang sebenarnja adalah tjiptaan Logan. Pada mulanya Indonesia tidak lebih daripada sebuah istilah geografi, tapi dengan pasangnja gerakan kemerdekaan nasional non-koperatif kemudian mendjadi djuga istilah politik. Sebelum itu, mendjelang tutup abad ke-19, istilah ini telah djuga digunakan sebagai istilah hukum oleh Ir H van Kol dalam perdebatan-perdebatan di dalam Parlemen Belanda,” tulis Pram.

Asal-usul Nama Indonesia

Sejarah dan Asal-usul Nama Indonesia Halaman all - Kompas.com

Pram melihat Logan sebagai etnolog yang mencetuskan istilah Indonesia. Namun sebenarnya, ada dua orang yang terlibat mencetuskan nama Indonesia. Mereka yakni George Samuel Windsor Earl dan Logan.

Earl yang pertama. Ia adalah orang yang menulis sebuah artikel dalam jurnal The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia Vol. IV pada 1850.

Ia menulis The Malayunesian branch of this race di halaman 71 pada jurnal tersebut. Di bawahnya ditambahkan catatan yang menjelaskan istilah itu.

Earl mengusulkan nama baru bagi penduduk kepulauan Hindia dengan nama Indu-nesians atau Malayu-nesians. Namun Earl lebih suka dengan istilah yang kedua.

Menurutnya, istilah Malayu-nesians lebih memberikan penghargaan pada orang-orang Melayu, yang telah menjelajah seluruh kepulauan sebelum orang-orang Eropa.

Logan merupakan kepala redaksi majalah itu. Ia juga kolega Earl, bahkan junior Earl saat masih kuliah.

Mengenai nama baru bagi penduduk kepulauan Hindia, Logan berpendapat sedikit berbeda. Ia lebih suka dengan istilah Indonesia. Menurutnya itu lebih praktis sebagai sebuah istilah geografi untuk membedakan wilayah kepulauan ini dengan wilayah lain.

Bagi Logan, istilah Indonesia lebih praktis ketimbang Indian Archipelago. Di halaman 254 pada jurnal itu, Logan memilih Indonesia sebagai nama wilayah kepulauan, dan penduduknya menjadi orang-orang Indonesia.

Menurut Logan, wilayah ini adalah wilayah bagian daratan yang dibagi dua oleh Teluk Benggala. Di bagian timur yang juga mendapat pengaruh dari India, juga bagian dari keseluruhan wilayah ini.

Maka dari itu, Logan mengusulkan nama India, Ultraindia, atau Transindia dan Indonesia. Jika digambarkan pada saat ini, wilayah India bisa diartikan wilayah antara Pakistan dan India Utara, kemudian India Selatan beserta kepulauan di sekitarnya, dan Asia Tenggara.

Sekilas tentang James Richardson Logan

Logan meninggal dalam usia relatif muda yakni 50 tahun. Ia sakit malaria.

Dalam tulisan berjudul Sebuah Kuburan, Sebuah Nama karya Andreas Harsono, Logan dianggap sebagai pahlawan bagi orang Penang.

Andreas sengaja berangkat ke Penang, dulu orang Melayu menyebutnya Pulau Pinang, untuk mencari makam James Richardson Logan.

Pada Oktober 2008, Andreas melakukan penelusuran makam Logan. Ia ditemani Francis Loh Kok Wah, profesor dari Universiti Sains Malaysia, Anil Netto seorang blogger, dan Himanshu Bhatt, wartawan.

Pemakaman itu berada di Jalan Sultan Ahmad Shah. Atas petunjuk Francis Loh, Andreas menemukan makam yang berbaur dengan makam orang lain yang beragama Protestan. Sebab di Penang, pemakaman orang Protestan dipisah dengan pemakaman orang Katolik.

Makam itu adalah makam Logan bersaudara. Logan dimakamkan berdampingan dengan saudaranya Abraham.

Logan dan Abraham adalah dua bersaudara yang datang ke Penang pada 1840. Pada waktu itu Logan berumur 20 tahun.

Tahun 1842, mereka pindah ke Singapura. Tapi, Logan kembali ke Penang pada 1853.

Di Penang, Logan membeli dan menyunting koran Penang Gazette pada tahun 1853. Sementara sang adik mendirikan koran Singapore Free Press.

Logan meninggal dunia pada 1869. Kematian Logan dianggap sebagai kehilangan besar bagi Penang

Warga Pulau Pinang pada waktu itu mendirikan monumen penghormatan untuk jasa-jasanya. Sifat-sifat Logan tertera dalam tugu itu. Seperti temperance (kesederhanaan), justice (keadilan), fortitude (tabah, ulet), dan wisdom (bijak).

Sejarah Berdirinya Pemuda Pancasila, Fakta, dan Sepak Terjangnya

Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat menghadiri acara Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) Pemuda Pancasila di   Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/10). Acara tersebut sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun ke-58 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Pancasila yang juga bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/NZ/17.
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat menghadiri acara Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) Pemuda Pancasila di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/10). Acara tersebut sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun ke-58 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Pancasila yang juga bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda.

HISTORY – Ormas Pemuda Pancasila menjadi sorotan setelah terjadinya insiden pengeroyokan terhadap salah seorang polisi anggota Polda Metro Jaya.

Diberitakan Kompas.com, Jumat (26/11/2021) Kepala Bagian Operasi (KBO) Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Dermawan Karosekali menjadi korban pengeroyokan massa dari ormas Pemuda Pancasila.

Karosekali menjadi korban saat dirinya bertugas mengamankan aksi demonstrasi massa Pemuda Pancasila di gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (25/11/2021) yang berakhir ricuh.

Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur menyatakan, Karosekali menderita trauma di perut akibat pengeroyokan yang dilakukan massa Pemuda Pancasila. Aksi kekerasan yang melibatkan ormas Pemuda Pancasila sudah berulangkali terjadi.

Sebelumnya, ormas ini sempat terlibat bentrokan dengan ormas Forum Betawi Rempung di Ciledug, Tangerang pada 19 November 2021. Lantas, bagaimana sejarah berdirinya Pemuda Pancasila?

Sejarah Pemuda Pancasila: Didirikan oleh pentolan militer Mengutip laman Badan Pelaksana Kaderisasi Pemuda Pancasila, organisasi Pemuda Pancasila dideklarasikan pada 28 Oktober 1959.

Pembentukan organisasi Pemuda Pancasila diprakarsai oleh penggawa partai politik Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Untuk diketahui, IPKI merupakan partai politik yang didirikan oleh pentolan militer Indonesia pada era Orde Lama atau pada saat era kepemimpinan Presiden Soekarno.

Mengutip laman Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, partai politik IPKI merupakan kelanjutan IPKI yang dibentuk sejak 20 Mei 1954.

Para tokoh pemrakarsa IPKI di antaranya adalah Kolonel Abdul Haris Nasution, Kolonel Gatot Subroto, Kolonel Aziz Saleh, dan lainnya.

IPKI merupakan partai politik yang didirikan dengan tujuan sebagai lawan ideologis dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika PKI mendirikan organisasi Pemuda Rakyat, IPKI meresponsnya dengan mendirikan organisasi Pemuda Pancasila pada 28 Oktober l959.

Gesekan antara Pemuda Pancasila dan PKI menjadi hal yang tak bisa dihindari.

Bahkan, Pemuda Pancasila bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terlibat dalam pembersihan PKI dan seluruh anasir komunis di Indonesia saat gejolak tahun 1965 yang menjadi cikal bakal kelahiran Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.

Eksis hingga sekarang

Semuda Pancasila berhasil melewati tiga era pemerintahan Indonesia, yakni era Orde Lama, era Orde Baru, dan kini era Orde Reformasi.

Dalam Musyawarah Besar ke-VII Pemuda Pancasila tahun 2001 di Wisma Kinasih Bogor, diputuskan bahwa Pemuda Pancasila berubah menjadi ormas yang bebas dari segala bentuk politik praktis.

Arah kegiatan organisasi tersebut kini lebih dititikberatkan untuk bergerak di sektor kegiatan sosial kemasyarakatan yang secara langsung menyentuh kepentingan masyarakat.

Rantai komando dalam tubuh Pemuda Pancasila terdiri dari tingkat nasional (Majelis Pimpinan Nasional), provinsi (Majelis Pimpinan Wilayah), kota/kabupaten (Majelis Pimpinan Cabang), kecamatan (Pimpinan Anak Cabang), hingga kader di kelurahan sebagai basis massa terbawah. Dengan semboyan “Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang”, Pemuda Pancasila mendeklarasikan diri bahwa organisasi tersebut siap menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik itu perubahan zaman, politik, hingga sistem pemerintahan.

Mendapat dukungan elite politik

Presiden Joko Widodo (empat kiri) bersama Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP) Bambang Soesatyo (ketiga kiri), Ketua DPD La Nyalla Mattalitti (kedua kiri), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kiri) dan Ketua Umum MPN PP Japto Soerjosoemarno (kelima kiri) menghadiri peresmian pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) X dan Perayaan HUT ke-60 Pemuda Pancasila di Jakarta, Sabtu (26/10/2019). Pemuda Pancasila menggelar Mubes X dengan tema “Mengembalikan marwah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, sesuai naskah asli yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945” yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2019 di Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir/wsj.
Presiden Joko Widodo (empat kiri) bersama Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila (PP) Bambang Soesatyo (ketiga kiri), Ketua DPD La Nyalla Mattalitti (kedua kiri), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kiri) dan Ketua Umum MPN PP Japto Soerjosoemarno (kelima kiri) menghadiri peresmian pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) X dan Perayaan HUT ke-60 Pemuda Pancasila di Jakarta, Sabtu (26/10/2019). Pemuda Pancasila menggelar Mubes X dengan tema “Mengembalikan marwah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, sesuai naskah asli yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945” yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2019 di Jakarta. 

Diberitakan a.com, Sabtu (27/11/2021) ormas Pemuda Pancasila juga memiliki sokongan dari para elite politik nasional. Ketua MPR Bambang Soesatyo tercatat menjadi Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila.

Bahkan, Presiden Joko Widodo beserta Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga tercatat sebagai anggota kehormatan Pemuda Pancasila. Jokowi dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Pemuda Pancasila saat membuka Musyawarah Besar Pemuda Pancasila di Hotel Sultan, Jakarta, pada 26 Oktober 2019.

Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno mengatakan, para anggota kehormatan mendapat perlindungan penuh darinya selaku Ketua Umum Pemuda Pancasila.

“Kami sudah mengangkat Presiden RI Joko Widodo. Saya bertanggung jawab melindungi pemegang kartu anggota Pemuda Pancasila,” kata Yapto.

Dua hari berselang pada 28 oktober 2019, tepatnya pada penutupan Musyawarah Besar Pemuda Pancasila, giliran Ma’ruf Amin yang didapuk sebagai anggota kehormatan.

Yapto langsung yang mendapuk Ma’ruf Amin menjadi anggota kehormatan Pemuda Pancasila dalam acara tersebut.

Ma’ruf diberikan status anggota kehormatan usai menyampaikan pidato penutupan Musyawarah Besar Pemuda Pancasila.

“Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, kami akan mengangkat KH Ma’ruf Amin menjadi anggota kehormatan atau anggota luar biasa Pemuda Pancasila,” ujar Yapto saat menutup acara tersebut.

Koja Berdarah, Ketika 3 Tewas dan Ratusan Luka-Luka dalam Konflik Makam Mbah Priok

JAKARTA,HISTORY– Mbah Priok atau Habib Hassan Al Haddad sudah menjadi tokoh keramat bagi masyarakat Jakarta Utara, Khususnya Koja, Tanjung Priok.

Makamnya yang terletak di Jalan Jampea No. 6, Koja, pun menjadi tempat ziarah yang selalu ramai pengunjung.

Masyarakat dari berbagai daerah datang berduyun-duyun ke sana untuk melakukan doa bersama dan memberi penghormatan kepada sosok yang dikenal berjasa dalam menyebarkan agama Islam tersebut.

Koja berdarah

Namun, pada 14 April 2010 terjadi sebuah peristiwa berdarah di sekitar makam keramat itu.

Bentrokan terjadi antara warga dan petugas keamanan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta aparat TNI dan Polri.

Pemicunya adalah sengketa tanah.

Catatan bbc.com, pemerintah DKI mengklaim bahwa makam itu berdiri di atas lahan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh pewaris makam Mbah Priok, sehingga terjadilah bentrokan. Akibat bentrokan tersebut, tiga anggota Satpol PP meninggal dunia.

Sebanyak 28 orang mengalami luka berat, 21 orang luka sedang, dan 148 luka ringan. Korban berasal dari warga dan petugas keamanan.

Kronologi kejadian Kepala Satpol PP Kepulauan Seribu Hotman Sinambela, yang terlibat dalam peristiwa berdarah itu, mengisahkan pengalaman traumatis yang ia alami ketika mengawal penggusuran lahan makam Mbah Priok.

“Saya masih ingat benar, saya lompar pagar tinggi sampai tiga kali. Setelah itu baru lewat laut naik perahu (kabur dari lokasi kerusuhan), karena saya memang warga Kepulauan Seribu,” ujarnya, Sabtu (17/4/2010).

Hotman mengisahkan, seperti dilansir Tribunjakarta.com, eksekusi penggusuran lahan makam dimulai sekitar pukul 05.20 WIB pada Rabu (14/4/2010).

Sebanyak 1.750 anggota Satpol PP dari beberapa wilayah, termasuk dari Kepulauan Seribu diterjunkan.

Baru sampai mengeruk bagian depan area makam, sekelompok orang sudah melakukan perlawanan.

Sebagian massa mengacung-acungkan celurit dan parang. Lama-kelamaan, kelompok tersebut mendapat bantuan yang lebih besar dan membentuk massa yang tidak terkendali.

“Bayangkan anggota saya tidak bersenjata, tapi dilawan dengan orang-orang yang mengacungkan samurai dan celurit. Bahkan sudah lempar bom molotov,” ujar Hotman.

Satpol PP jadi korban

Ia mengakui anggotanya sempat memberikan perlawanan karena melihat ada anggota Satpol PP bernama Tadjudin sudah putus tangannya tersabet parang.

“Anggota saya melihat Tadjudin tangannya sudah putus saat itu. Sebenarnya saat itu juga dia sudah meninggal.

Kalau sudah begitu, siapa yang enggak panik. Cuma masalah tanah gapura saja sampai seperti itu.

Kami sebenarnya tidak menginginkan seperti itu terjadi,” ujarnya. Pada siang hari, massa mulai menguasai akses pintu masuk ke makam, yang merupakan jalan menuju Terminal Petikemas Koja.

Ia dan anak buahnya harus tunggang langang menghindar dari serbuan massa yang mulai membabi buta jika melihat ada anggota Satpol PP di lokasi kejadian. Menjelang Maghrib, Hotman sempat mengkhawatirkan keselamatan anggotanya.

Karena sempat menunggu beberapa menit sebelum ada speed boat yang menjemput. “Saat itu, saya cemas dan bingung juga. Mau bagaimana lagi kalau sudah di ujung,” ujarnya.

Hotman mengaku tak terlalu memikirkan berapa miliar jumlah kerugian yang dialamai pihaknya.

Ia lebih khawatir nasib anggotanya yang belum kembali. “Yang sudah kembali dengan saya lewat laut baru 877 dari 1750 orang.

Saya dapat informasi ada 2 mayat lagi ditemukan. Tapi, kami belum tahu kebenarannya, ” ujarnya. Sebagai pimpinan Satpol PP Kepulauan Seribu, Hotman minta kepada anggota Satpol PP yang belum kembali, segera melapor ke Posko Pengaduan.

Ia juga minta bantuan masyarakat agar melapor jika menemukan anggota yang sakit ataupun tewas.

“Saya minta bantuan masyarakat untuk mencari dimana mayatnya. Kalau pun hanya tinggal kepalanya, beritahu kami,” pintanya. Ia akui, pada malam itu juga mendapat perintah dari atasan agar anggota Satpol PP tidak aktif sementara.

Bahkan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, anggota Satpol PP hanya berani mengenakan pakaian biasa.

Daftar 9 Istri Bung Karno: dari Kawin Gantung, Janda hingga Siswi SMA 

HISTORY kisah istri Bung Karno terulis dalam buku. Antara lain, Inggit, Kuantar Ke Gerbang; Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno; Haryatie, Soekarno The Hidden Story; Hartini, Biografi Hartini Soekarno; Ratna Sari Dewi, Sakura di Tengah Prahara; Yurike Sanger, Kisah Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA; Heldy Djafar, Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno.

Selain itu kisah istri Bung Karno juga ditulis dalam buku Bunga-Bunga di Taman Hati Soekarno, Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya yang ditulis penulis Haris Priyatna. Ada pula Total Bung Karno karya Roso Daras.

Presiden Sukarno atau Bung Karno tercatat mempunyai 9 istri. Sembilan istri Soekarno tersebut antara lain adalah, Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Kartini Manoppo dan Heldy Djafar.

Dari kesembilan istri Bung Karno, enam di antaranya berakhir dengan perceraian; Siti Oetari, Inggit Garnasih, Kartini Manoppo, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.

Saat sekolah di Surabaya, Sukarno kos di rumah HOS .Cokroaminoto. Siti Oetari, adakah putri sulung HOS Tjokroaminoto. Sukarno menikahi Oetari pada 1921 pada usia 21 tahun. Sedang Oetaru berumur 16 tahun. Oetari belum lama ditinggal mati ibunya.

Ternyata Soekarno tidak mencintai Oetari. Oetari juga tidak mencintainya. Mereka tak saling mencintai. Pernikahan mereka hanya seumur Jagung. Soekarno akhirnya menceraikan Oetari tak lama setelah kuliah di Bandung.

“Bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang kupuja itu (Tjokroaminoto), itu akan kulakukan,” cetus Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Roso Daras, penulis buku Total Bung Karno mengatakan, “Istilahnya mereka menikah kawin gantung.”

Inggit Ganarsih adalah istri kedua Bung Karno. Sukarno dan Inggit bertemu di kota Bandung. Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB) tahun 1921.
Inggit Ganarsih adalah istri kedua Bung Karno. Sukarno dan Inggit bertemu di kota Bandung. Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB) tahun 1921.

Inggit usianya juga lebih tua 13 tahun, berstatus istri orang (H Sanusi, politisi Sarekat Islam). Di rumah kos di Bandung milik Inggit cinta bersemi. Mereka memutuskan menikah pada 24 Maret 1923.

Sukarno menceraikan Oetari dan Inggit menceraikan H Sanusi.

Mereka mengarungi bahtera rumah tangga selama hampir 20 tahun, akhirnya berpisah pada tahun 1943 karena Inggit tidak mau di madu sebab tidak punya anak. Mereka bercerai dengan perjanjian perceraian, Sukarno membelikan rumah di Bandung dan memberi nafkah seumur hidup.

“(Tapi) Inggit tidak pernah sekalipun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Sukarno dalam surat perjanjian cerai, yang juga disaksikan dan ditandatangani oleh Moh Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansoer pada 1942,” tulis Ramadhan KH dalam Soekarno: Ku Antar ke Gerbang.

Setelah bercerai dari Inggit pada 1943, Bung Karno kenal dengan Fatmawati yang juga anak angkatnya saat di Bengkulu . Fatma lalu dinikahinya. Fatma merupakan gadis muda yang usianya lebih muda 22 tahun dari Bung Karno. Bung karno sudah berumur 42 tahun.

Fatmawati merupakan Istri soekarno yang paling terkenal, karena berjasa dengan menjahit bendera sang saka merah putih untuk pelaksanaan Proklamasi.

Soekarno dari Fatmawati memiliki keturunan, lima anak. Mereka adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Istri keempat Hartini. Mereka bertemu ketika di Candi Prambanan. Mereka menikah pada tahun 1953. Hartini saat itu berumur 29 tahun dan berstatus janda dengan lima anak.

Dari Soekarno, Hartini dapat dua anak, yaitu Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra. Hartini, wanita asal Ponorogo kelahiran tahun 1924 ini bertemu pertama dengan Bung Karno tahun 1952 di kota tempat tinggalnya, Salatiga, Jawa Tengah.

“Bapak langsung menyatakan sangat tertarik kepada diri saya.” Malahan ketika diberi tahu bahwa sudah punya lima orang anak, muncul komentar spontan, “Benar, sudah lima anak dan masih tetap secantik ini?”

Cinta pandangan pertama tersebut muncul seketika, dan Bung Karno menyebutkan, “Aku jatuh cinta kepadanya. Dan kisah percintaan kami begitu romantis sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal tersebut.”

Saat itu, Bung Karno masih terikat perkawinan dengan Fatmawati, sementara status Hartini, ibu rumah tangga dengan lima anak.

Juli 1953, Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas. Karena Bung Karno tidak bisa hadir, bertindak sebagai wakil nikah komandan pasukan pengawal pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo.
Juli 1953, Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas. Karena Bung Karno tidak bisa hadir, bertindak sebagai wakil nikah komandan pasukan pengawal pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo.

“Hartini salah satu istri Soekarno yang tetap setia hingga ajal Bung Karno tiba. Di pangkuan Hartini , Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di RS Gatot Subroto,”ungkap Roso.

Bung Karno lalu menikah dengan Haryati di Jakarta . Haryati adalah penari yang juga merupakan staf Sekretariat Negara Bidang Kesenian itu. Sukarno lantas menikahinya gadis berusia 23 tahun itu pada 21 Mei 1963 dengan hajatan sederhana.

Dikatakan Haryati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno; Haryatie, bahwa Bung Karno berpendapat, sangat bijaksana kalau pernikahan ini tidak usah diumumkan kepada masyarakat luas.

“Kami berdua saling mencintai, tetapi menghadapi berbagai kesulitan. Selain itu, Bapak sudah mempunyai tiga istri dan usianya sekarang 63 tahun, sedangkan saya baru 23 tahun.”

Sukarno memilih menceraikannya pada 1966. “Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak ‘cocok’ satu sama lain,” tulis Sukarno dalam surat perceraiaannya yang dikutip Reni Nuryanti dalam Perempuan dalam Hidup Sukarno.

Istri Bung Karno berikutnya adalah Ratnasari Dewi. Dalam buku My Friend the Dictator , ia mengungkapkan, “Saya dikenalkan kepada Bapak di Hotel Imperial Tokyo oleh para rekan bisnis dari Jepang”. Pertemuan pertama tersebut membawa kesan sangat dalam. Tidak lama kemudian, Bung Karno mengundangnya ke Jakarta, untuk bertamasya selama dua minggu.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan perkawinan pada awal Maret 1962, setelah Naoko Nemoto pindah agama dan Bung Karno memilihkan nama , Ratnasari Dewi.

Tetapi perkawinan tersebut membawa korban. Ibu Naoko, seorang janda, kaget dan langsung meninggal mendengar putrinya menikah dengan orang asing. Disusul hanya 26 jam sesudahnya, Yaso, saudara lelaki Naoko, melakukan bunuh diri. “And I was so alone. I had lost my whole family.”

“Mengingat situasi serba tidak menguntungkan, mengambil orang asing sebagai istri baru, maka selama beberapa waktu pernikahan kami disembunyikan. Saya merasa sangat tersiksa, harus selalu sendirian dan bersembunyi di rumah. Satu-satunya kegembiraan, Bapak sangat memperhatikan segala macam keperluan saya. Bapak menyulutkan rokok saya, Bapak dengan setia membawakan buah-buahan,”paparnya.

Kartini Manoppo

Petualangan Bung Karno belum berakhir. Ia jatuh cinta pada seorang model dan mantan pramugari. Namanya Kartini Manoppo asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang jadi salah satu model lukisan karya Basoeki Abdullah . Setelah ditanya siapa modelnya dan alamatnya, Sukarno mendekati Kartini.

“Kartini yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas dimintanya ikut terbang setiap kali Presiden Sukarno ke luar negeri,” ungkap Peter Kasenda dalam Bung Karno: Panglima Revolusi. Rayuan maut .

Mereka menikah tidak secara resmi, melainkan hanya nikah siri pada 1959.

“Keluarga tidak menyetujui. Pantang bagi keluarga terpandang putri kesayangannya jadi istri kelima meski dia seorang presiden. Itulah kenapa saya tidak menikah secara resmi dengan Bung Karno,” kenang Kartini di buku Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih, Suamiku dan Kebanggaanku.

Namun perubahan situasi politik pasca-Tragedi 1965, Kartini diminta Sukarno “menyelamatkan” diri ke Eropa. “Kartini diminta ke Eropa demi keselamatan mereka. Bung Karno tidak mau Kartini yang sedang hamil, terjadi sesuatu di Indonesia,” kata Roso.

Di Nurnberg, Jerman pada 17 Agustus 1966, Kartini melahirkan seorang putra yang dinamai Bung Karno, Totok Surjawan. Dua tahun kemudian keduanya memutuskan berpisah.

Lalu kisah cinta Bung Karno dengan siswa SMA, Bung Karno mengenal Yurike semasa sang gadis masih tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, di sebuah acara kenegaraan pada 1963. Ia jatuh cinta, hingga memutuskan menikah pada 6 Agustus 1964.

Yurike kian kesulitan bertemu suaminya pasca-Tragedi 1965. Terlebih setelah Bung Karno mulai sakit-sakitan. Pada suatu ketika Yurike bisa membesuk suaminya di Wisma Yaso, Bung Karno melayangkan permintaan yang menusuk hatinya. Yurike diminta bercerai demi masa depan Yurike sendiri. Permintaan yang awalnya ditolak sang istri muda.

“Dengan terpaksa kupenuhi permintaannya. Kami bercerai secara baik-baik (pada 1967). Sungguh mengharukan karena kami masih sama-sama mencintai. Kami berpisah saat kami sedang rapat bersatu,” kenang Yurike dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA: Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger karya Kadjat Adra’i.

Istri terakhir Bung Karno atau yang ke 9 adalah Heldy Djafar. Ia tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, pengibar bendera pusaka. Bung karno meminangnya dan menikahinya pada 11 Juni 1966 di Istana, tepatnya di Wisma Negara.

Rumah tangga mereka hanya bertahan dua tahun. Selain karena sudah dimakzulkan, Bung Karno mulai sakit-sakitan. Untuk bisa bertemu harus di rumah Yurike, di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur.

Hingga suatu ketika , itu Heldy meminta izin untuk menjauh dari Sukarno. “Mas, maafkan saya, kalau saya boleh menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Kondisi dan suasana saat ini sangat menyakitkan hati saya. Tidak bisa begini terus. Harus ketemu di rumah orang lain,” lirihnya dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda.

Kata-kata itu menyiratkan Heldy minta cerai. Namun ditolak Sukarno yang belum ingin berpisah. Seiring waktu, status mereka kian tak jelas. Dibilang istri sulit, cerai pun tidak. Akhirnya Heldy menerima pinangan Gusti Soeriansjah pada 19 Juni 1968. (aky)