Asal Usul Kali Angke, Tempat Pembantaian Massal VOC 1740

JAKARTA – Kali Angke adalah salah satu kali terkenal di Jakarta yang memiliki hulu di Bogor. Kali yang memiliki nama lain Cikeumeuh ini melintasi wilayah Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan bermuara di wilayah Muara Angke , Jakarta Barat.

Kali ini merekam memori kelam masa lalu yang pernah ada di Jakarta, yakni terjadinya pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC di tahun 1740.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari ‘Buku Asal-usul Nama Tempat Di Jakarta milik Pemprov DKI Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permuseuman 2004″, nama ‘Angke’ sendiri diambil dari bahasa China, yakni ‘Ang’, berarti darah dan ‘Ke’ yang memiliki arti bangkai.

Melansir Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan berjudul ‘Pembunuhan Massal Etnis Cina 1740 dalam Drama Remy Sylado: Kajian New Historisisme’, tragedi pilu itu berlangsung tepat pada 9 Oktober 1740. Pembantaian itu menyebabkan 10 ribu orang asal etnis Tionghoa tewas. Jasad mereka lantas sengaja dibuang ke kali Angke. Lambat laun, kejadian itu dikenal dengan ‘Tragedi Berdarah Angke’.

Gubernur Jenderal VOC kala itu, Adrian Valckenier memerintahkan, pasukannya untuk membantai 10 ribu orang Tionghoa. Awalnya, pembantaian dilakukan di penjara. Selanjutnya, merambat ke rumah sakit dan seluruh wilayah Batavia.

Luka Menganga Etnis Tionghoa

Mengapa peristiwa kelam itu bisa terjadi? Menurut informasi dalam Jurnal Wacana dengan tajuk ‘Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740, Dampak Konflik Golongan “Prinsgeziden” dan “Staatsgezinden” di Belanda?’, jumlah etnis Tionghoa yang mendiami wilayah Batavia per 1 Januari 1740 adalalah 10.574 orang.

Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang setahun sebelumnya yang hanya 4 ribu orang. Ada data lain yang juga ditemukan dalam bentuk tulisan tangan. Di dalamnya, diketahui jika jumlah orang Tionghoa yang ada di dalam benteng Batavia adalah 14 ribu jiwa. Sementara itu, mereka yang tinggal di luar benteng berjumlah 60 ribu sampai 70 ribu. Jika ditotal, diperkirakan ada sekitar 80 ribu warga Tionghoa kala itu.

Asal Usul Kali Angke, Tempat Pembantaian Massal VOC 1740

 

Terkait mata pencaharian, warga yang tinggal di luar benteng atau tembok kota Batavia bekerja sebagai petani. Lebih spesifik, ada yang menggeluti profesi sebagai petani gula dan bambu. Sebagian dari mereka juga bekerja di bidang perkayuan dan arak untuk menyediakan kebutuhan bagi warga yang tinggal di dalam tembok kota.

Menjelang tahun 1740, keadaan di kota Batavia tidak menentu, Orang Tionghoa yang masuk ke Batavia harus memiliki kartu tanda masuk. Jika tidak dipatuhi, mereka akan ditangkap. Saat itu, diketahui banyak warga Tionghoa yang melanggar aturan tersebut yang berakibat pada penahanan oleh pihak berwajib. Mereka yang ditahan baru dibebaskan setelah membayar nominal tertentu.

Diketahui, pemerintah VOC mewajibkan warga Tionghoa untuk menyerahkan uang sebesar 2 ringgit setiap tahunnya. Bukti pembayaran itu dicantumkan dalam licentiebriefje dan pasbriefje. Jika mereka tidak sanggup menunjukkan bukti itu, maka akan dipulangkan ke negeri China atau dikirim ke Ceylon untuk dipaksa bekerja di perkebunan.

Di sisi lain, banyak warga Tionghoa yang mengalami perampokan dan penyiksaan. Perlakukan buruk itu tentunya didapat dari pemerintah VOC. Perbuatan sewenang-wenang yang diimplementasikan pemerintah VOC membuat warga Tionghoa geram. Hubungan antara etnis Tionghoa dan pemerintah VOC di Batavia menjadi sangat renggang dan dipenuhi rasa curiga. Ada berbagai kebijakan lain yang membuat masyarakat Tionghoa naik pitam.

Salah satunya, mengirim orang Tionghoa ke Ceylon, yang dicurigai sebagai gelandangan dan tidak memiliki bukti masuk kota. Kabar burung yang kala itu beredar menyebutkan bahwa mereka akan dibuang ke tengah laut saat proses pengiriman. Kemarahan warga Tionghoa pun memuncak. Pada 9 Oktober 1740 mereka melakukan pemberontakan.

Aksi itu berakhir dengan pembantaian terhadap etnis Tionghoa. Pembantaian ini juga didorong adanya narasi yang dikeluarkan oleh pihak VOC, bahwa siapa saja yang berhasil membantai etnis Tionghoa (terutama bagi mereka yang ada di luar kota Batavia), maka akan memperoleh uang berupa 2 dukat (emas atau perak yang diperjualbelikan di Eropa) per orang.

Iming-iming ini dinilai sangat menggiurkan, sehingga pembantaian yang terjadi sangat membabi buta. Para pembantai tak peduli siapa yang ia bunuh. Tua, muda, anak-anak, atau remaja dilibasnya, asalkan orang itu berasal dari etnis Tionghoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *